pasang iklan

Di Tengah Apresiasi UNESCO, Kelestarian Noken Masih Terkendala

JAGAPAPUA.COM - Pemerintah Indonesia mendapat apresiasi dari Organisasi Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan PBB yakni UNESCO atas laporan periodik kedua tentang Noken Papua sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Indonesia dinilai telah melestarikan Noken dengan mengembangkan data acuan atau database tentang Noken mulai dari membudidayakan Arboretum, mengembangkan keterampilan pengrajin dan pemangku kepentingan lainnya.

Selain itu, Indonesia juga mempromosikan serta meningkatkan nilai ekonomi Noken baik di tingkat nasional maupun internasional. Selain itu, UNESCO juga mendorong Indonesia untuk melanjutkan upaya pemutakhiran bahan pelajaran Noken agar mudah diakses oleh siswa, membina kemampuan kewirausahaan dengan menekuni Noken dan memastikan ketersediaan bahan baku yang berkelanjutan. Hal ini diungkapkan oleh Duta Besar atau Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO, Ismunandar.

“Selain itu didorong pula untuk dilakukan penelitian tentang nilai-nilai Noken dan menyebarluaskan temuan-temuannya demi meningkatkan pengetahuan tentang simbolisme dan penggunaan Noken secara adat serta tentang bahan-bahan alami yang digunakan,” ujar Ismunandar dalam sidang Komite Antar Pemerintah untuk Perlindungan Warisan Budaya Takbenda ke-16, Senin (13/12/2021).

Lebih lanjut, menurut Ismunandar diperlukan rumusan kebijakan untuk mengatur perlindungan terhadap bahan baku Noken sekaligus penerapan kebijakan secara baik dan benar. UNESCO juga mendorong adanya pemberian Penghargaan Budaya bagi para praktisi Noken sebagai bentuk pengakuan atas kontribusi dan pengabdiannya menjaga dan memelihara budaya asli Indonesia, yakni Noken Papua.

Ancaman Ketersediaan Bahan Baku dan Tantangan Pemasaran

Sejalan dengan dorongan UNESCO untuk perlindungan bahan baku Noken asli Papua, pemerintah masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah yang cukup kompleks. Noken asli Papua diantaranya terbuat dari bahan baku kulit pohon yang didapat dari hutan-hutan di wilayah Papua.

Saat ini noken khas Papua berbahan kulit pohon Dobfarutu menjadi tren dan diminati oleh kalangan anak-anak muda Papua. Akan tetapi, Arnol Pigo, seorang anak muda dari Suku Kuri di Bintuni mengaku sedih dan mengeluh karena kini masyarakat merasa kesulitan mencari kulit pohon Dobfarutu yang menjadi bahan utama pembuatan noken ini.

“Sayang sekali pohon ini banyak tumbuh di pinggiran sungai Nitos dan kaki gunung Tareno, tapi sekarang sebagian besar pohonnya roboh dan kami kehilangan pohon kulit kayu dobfarutu,” ujarnya kepada jagapapua.com, Senin (5/7).

Masyarakat Suku Kuri terbiasa memanfaatkan kulit pohon ini untuk membuat noken khas suku Kuri. Kulit pohon Dobfarutu yang tumbuh di pinggiran sungai Nitos di Kabupaten Teluk Bintuni dikenal memiliki kualitas yang bagus untuk pembuatan noken.

Noken khas Papua yang terbuat dari kulit Dobfarutu ini memiliki banyak fungsi. Masyarakat suku Kuri biasanya menggunakan noken dengan ukuran sedang untuk mengisi pinang, kapur dan sirih. Selain itu, noken ukuran sedang juga bisa digunakan untuk membawa peralatan lain seperti telepon seluler (ponsel), buku agenda, buku harian, bulpoin dan peralatan lainnya.

Selain permasalahan mengenai ketersediaan bahan baku alam, pemerintah juga diharapkan melakukan intervensi kebijakan dengan mendorong penggunaan Noken oleh masyarakat. Selain dikenal multi fungsi, Noken yang terbuat dari bahan alam  juga terbukti awet dan ramah lingkungan. Akan tetapi pemasaran Noken asli Papua masih banyak terkendala terutama dari segi pemasaran dan daya saing dengan produk lain sebagaimana yang dialami mama Papua dari Suku Wamesa Kabupaten Teluk Bintuni.

Noken khas Papua hasil kreasi mama-mama Suku Wamesa yang berada di Bintuni  mengalami kendala untuk dipasarkan. Tim jagapapua.com, Selasa (7/12/2021) menjumpai seorang mama yang sedang merajut noken khas Suku Wamesa dari bahan tali kayu Seman. Bahan ini terbilang mudah didapat oleh masyarakat setempat dari hutan.

Mama Waney hidup dengan suaminya seorang nelayan dan cucu-cucunya di gubuknya. Namun Waney tidak tinggal diam saat suaminya melaut, aa sangat kreatif merajut noken cantik.  Noken ini dibuat dengan bahan dasarnya dari kulit kayu Seman yang dilepas dari batangnya dan disabit-sabit dengan ukuran kurang lebih 2 inchi untuk dikeringkan. Kulit kayu ini cukup dikeringkan sehari dan sudah dapat digunakan untuk menganyam noken.

“Noken ini dulu orang-orang tua menganyam dengan ukuran besar untuk digunakan memuat barang hasil kebun seperti ubi, sagu, pisang,” ujarnya.

Ia mengatakan, namun saat ini kearifan lokal ini terkikis oleh perkembangam zaman seperti dengan adanya karung, plastik dan lainnya. Selain itu, plastik juga diproduksi dengan mesin yang dapat menghasilkan plastik dalam jumlah besar dalam waktu yang singkat. Hal ini tentu berbeda dengan Noken khas Papua yang membutuhkan waktu lebih untuk membuatnya.

Akan tetapi di sisi lain, kantong plastik juga memiliki dampak negatif terhadap lingkungan sekitar. Sampah plastik bahkan nampak menggunung di sejumlah tempat karena sifatnya yang sulit terurai. Hal ini juga telah mengancam kelestarian ekosistem dan keseimbangan alam.

Kondisi ini sudah seharusnya mendesak intervensi pemerintah untuk menggerakkan kembali penggunaan Noken di masyarakat Bintuni. Noken ini dibuat dari bahan alam, tidak memiliki dampak negatif bagi lingkungan dan sangat awet sehingga perlu didorong untuk dikembalikan fungsinya, dimanfaatkan oleh masyarakat.

“Harga Noken mama ini ukuran besar senilai Rp. 250.000,- . Untuk Noken ukuran kecil seharga Rp.150.000,-“ katanya.

Dorongan Pembangunan Museum Noken Dongkrak Budaya dan Pariwisata

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Deiyai, Papua, Petrus Badokapa menyampaikan bahwa harus ada museum Noken Papua di wilayah Meepago. Menurutnya, sebagai warisan budaya yang sudah terdaftar di UNESCO, Noken asli tanah Papua layak memiliki museum khusus untuk memelihara eksistensinya dan sebagai wujud kebanggaan masyarakat Papua.

“Harus ada museum Noken di Meepago agar orang luar berkunjung melihat budaya Noken Papua yang sebenarnya,” katanya.

Petrus menilai, wilayah Meepago mayoritas didiami masyarakat asli Papua dari 5 kabupaten diantara Nabire, Dogiyai, Deiyai, Paniai, dan Intan Jaya yang berkemampuan menghasilkan dan merajut Noken asli Papua.

“Bapak Pencetus Titus Pekei sudah menduniakan Noken dan selanjutnya kita wariskan budaya Noken tersebut dengan cara melatih generasi muda untuk menganyam.

“Agar budaya Noken ini tidak hilang, para mama-mama harus melatih kepada generasi mudah agar bisa diwariskan,” katanya.

Ia juga mengapresiasi Titus Pekei yang telah hadir dalam acara peringatan HUT Noken ke-9 yang berlangsung di gedung Karel Gobai kabupaten Nabire, Sabtu (04/12/2021). Ia berharap agar ke depan budaya Noken lebih maju dan masyarakat dapat membiasakan memakai Noken sekaligus rajin merajut sehingga warisan budaya ini tidak akan pudar dikikis angin modernitas.

Titus Pekei mendorong masyarakat 7 wilayah Adat di Papua untuk bersatu dalam upaya melestarikan Noken Papua. Noken memiliki multi fungsi yang perlu diwariskan dan dijaga.

“Noken sudah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya tak benda di Paris, Prancis, di Eropa, maka noken sebagai budaya, dari 7 wilayah adat yang ada harus lestarikan noken asli dari masing-masing atau suku,” ujar Titus Pekei Pencetus Noken, Sabtu (04/12).

Selain itu, Pekei merasa bersyukur karena kali pertama masyarakat atau para mama-mama merayakan HUT noken yang ke-9 dengan acara pameran sekaligus mempromosikan hasil rajutannya. “Saya bangga dan merasa bersyukur. Karena baru pertama kali saya melihat mama adakan pameran noken dalam memperingati HUT noken yang ke-9 ini,” ujarnya.

Sementara itu, Koordinator Umum, Melianus Kotouki mengatakan, untuk persiapan HUT noken yang ke-9 ini, pihaknya sudah melayangkan proposal bantuan kepada pemerintah tetapi pihak Pemerintah Daerah belum memberikan respons sehingga kegiatan ini dilaksanakan sesuai kemampuan yang ada dan acara terbukti berjalan lancar dan meriah.

“Kami sudah ajukan beberapa proposal bantuan kepada pemerintah tetapi belum ada respon dan kami laksanakan kegiatan ini apa adanya,” katanya.

Para mama Papua dari tujuh wilayah adat yang ada di wilayah Nabire turut meramaikan pameran. Mama-mama Papua ini masing-masing mempromosikan noken rajutan asli khas Papua di depan maupun luar gedung olahraga kabupaten Nabire Karel Gobai. Di halaman gedung nampak dipenuhi berbagai jenis noken rajutan asli mama-mama Papua yang dipromosikan sebagai warisan budaya asli yang melekat dan hidup di tengah masyarakat Papua. (UWR)

Share This Article

Related Articles

Comments (222)

Leave a Comment

Liputan Video

Video Lainnya

Daftar

Gallery