pasang iklan

Soal Dampak Globalisasi Terhadap Ideologi Pancasila

EDITORIAL

Mengawali pikiran ini, saya mencoba membuka memori kita tentang pidato Bung Karno di depan Sidang Umum PBB yang menyatakan Indonesia menganut faham demokrasi Pancasila yang berasaskan gotong royong, kekeluargaan, serta musyawarah dan mufakat.

Dengan pikiran seperti itu kita harus memahami benar bahwasanya peran Pancasila sebagai pandangan hidup dan dasar negara memegang peranan penting dalam setiap dimensi kehidupan manusia. Betapun hari ini ancaman luar begitu kuat dengan alasan globalisasi di berbagai bidang. Pancasila mesti memiliki tempat yang lebih kuat dan bangsa-bangsa lain yang hidup dalam NKRI berinteraksi dengan berpedoman pada Pancasila.

Hari ini, kita membahas hal besar yang harus dituntaskan bangsa ini bagi generasi Indonesia kedepannya, dimana degradasi nilai-nilai luhur pancasila pada generasi kita adalah akibat dari bangsa ini sebetulnya kurang memberi porsi keadilan yang merata bagi setiap anak bangsa. Semua kita dalam konstitusi disebut dijamin hak dan kewajibannya dan mendapat perlindungan, tetapi implementasi setiap sila Pancasila, praktek itu belum menyentuh akar persoalan. Jika kondisinya seperti itu, bukan tidak mungkin pandangan hidup lain yang datang dari dunia luar akan menjadi tujuan hidup seseorang.

Ideologi lain yang masuk dan mengancam Ideologi pancasila mesti dipahami tidak semuanya berwujud, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup itu sendiri. Generasi kita tidak menyadari betapa terhanyutnya mereka dalam pusaran falsafah dan pandangan dunia barat, tetapi sulit untuk melepaskan diri dari lingkaran itu karena merasa aman dan nyaman. Proses inilah yang membuat bangsa ini begitu bekerjakeras mempertahankan Pancasila sebagai Ideologi.

Jangan kita bicara soal Ke-Tunanan Yang Maha Esa, kalau praktek kehidupan ini masih terjadi diskriminasi bagi kebebasan umat beragama yang dipersoalkan. Demikian pula jangan bicara soal sila kedua, jika hari ini praktek kekerasan dan pelanggaran Hak Asasi Manusia masih begitu tinggi. Demikian pula sila ketiga kita yang belakangan ini menjadi pekerjaan paling berat tentang bagaimana ancaman disintegrasi begitu menguat.

Perlu catat bahwa setiap bangsa di dunia memerlukan pandangan hidup yang jelas agar mampu berdiri kokoh dan mengetahui arah dan tujuannya. Dengan pandangan hidup yang jelas, bangsa itu mempunyai pedoman menyelesaikan persoalan rakyatnya.

Pancasila sebagai Idiologi bangsa masih mendapat banyak kritikan dari rakyat, sebagai akibat dari kehidupan berbangsa meninggalkan kesenjangan melebar diberbagai aspek kehidupan. Tidak saja itu, praktek keadilan dan kepastian hukum terhadap persoalan bangsa menjadi pengaruh besar rasa nasionalisme anak bangsa ini begitu cepat pudar. Memang ini adalah tanggungjawab besar yang harus diselesaikan.

Kita tau bahwa globalisasi itu berlangsung melalui dua arah dimensi ruang dan waktu. Ketika ruang itu makin sempit dan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala global dan membutuhkan kecepatan dan akurasi yang tinggi. Dalam dimensi itu, Indonesia belum begitu kuat dalam pergaulan dunia global dengan saingan teknologi tinggi. Dampaknya, generasi kita ikut dalam “kemanisan paham luar”

Patut diingat bahwa pada zaman modern ini wajah kolonialisme dan imperialisme tidak lagi dalam bentuk fisik, tetapi dalam wujud lain seperti penguasaan politik dan ekonomi. Meski tidak berwujud fisik, tetapi penguasaan politik dan ekonomi nasional oleh pihak asing berdampak sama seperti penjajahan pada masa lalu.

Proses politik Indonesia yang berkembang sangat mengandung faham liberalisme dan semakin menjauh dari sistem politik berdasarkan Pancasila. Terlihat jelas betapa demokrasi diartikan sebagai kebebasan tanpa batas. Hak asasi manusia (HAM) dengan keliru diterjemahkan dengan boleh berbuat semaunya dan tak peduli apakah merugikan atau mengganggu hak orang lain. Budaya dari luar, khususnya faham liberalisme, telah merubah sudut pandang dan jati diri bangsa dan rakyat Indonesia. Pergeseran nilai dan tata hidup yang serba liberal memaksa bangsa dan rakyat Indonesia hidup dalam ketidakpastian.

Editorial: Fren Lutruntuhluy ( Jaga Papua )

Share This Article

Related Articles

Comments (868)

Leave a Comment

Liputan Video

Video Lainnya

Daftar

Gallery