pasang iklan

Beberi Geram, Almarhum Disebut KKB

MIMIKA, JAGAPAPUA.COM - Menguburkan militerisasi ditanah Papua adalah gejolak jiwa yang disuarkan pihak keluarga korban penembakan yang ditembak TNI YR 712 dan YR 900 di Areal Freeport (13/4).

Suasana duka begitu terasa. Ungkapan kesedihan sekaligus kutukan pada penembak bertebaran di media sosial. Dikutip dari Tabloid Jubi, Demi Bebari, ayah Eden korban penembakan, saat diwawancarai, dia mengaku naik pitam dan geram anaknya disebut anggota kelompok bersenjata di Mimika.

Dia mengesankan, jika anaknya Eden tidak pernah terseret dalam kubangan kelompok KKB. Menurut Bebari, barang bukti berupa rokok, amunisi, gelang KKB, yang tertempel disenapan molo, serta senjata laras panjang adalah rekayasa.

Lagi-lagi menurutnya, itu semua tidak benar sama sekali sebab anak ini baru berusia 19 tahun. Anak ini sedang menempuh kuliah, dia tak paham dengan hal-hal macam begini," ujar Bebari kepada Yuliana Lantipo dan Victor Mambor dari Jubi, Selasa pekan itu (14/4).

Lantas tak terima kematian anaknya, Bebari pun minta pelaku diadili di pengadilan sipil. Dia tak mau diadili di pengadilan militer. Selain itu, dia juga meminta Komisi Nasional Hak Asasi Manusia melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap mendiang anaknya.

Sebelumnya, lantaran mewabahnya virus corona akhir-akhir ini, Bebari terpisah dengan anaknya Eden, korban penembakan, sebab penerbangan ditutup. Anaknya tinggal di Timika, sedangkan dirinya hidup di Jayapura.

Atas kejadian itu, ia berniat akan sembangi pimpinan aparat keamanan Mimika untuk meminta pertanggungjawaban. Lantas itu Bebari pun kokohkan tekadnya, agar pelaku diadili di pengadilan sipil. (RS)

Baca juga: https://jagapapua.com/article/detail/2361/keluarga-sebut-barang-bukti-terkait-kksb-tidak-benar

Share This Article

Related Articles

Comments (0)

Leave a Comment

Liputan Video

Video Lainnya

Daftar

Gallery