pasang iklan

Perang Lagi! Apakah Papua harus selalu Menangis?

PAPUA, JAGAPAPUA.COM -  Distrik Tembaga pura kembali memanas. Bukan oleh Covid-19, melainkan oleh kontak senjata antara TNI/Polri dan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPPB) pada Minggu (15/3/2020). Dari informasi yang diterima jagapapua.com, terdapat korban sebanyak 6 (enam) orang dari pihak TPNPB, 4 (empat) tewas di tempat dan 2 (dua) lainnya luka-luka.

Kontak senjata itu sudah terjadi sejak hari Sabtu sebelumnya. Sebanyak 3 (tiga) pucuk senjata api diamankan oleh TNI/Polri. Ada juga beberapa senjata tajam lainnya yang dirampas yaitu busur panah beserta anak panah dan 1 (satu) buah kampak. Terkait operasi ini, Kapolda Papua, Irjen Paulus Waterpauw  mengatakan, “Saya mengapresiasi TNI/Polri yang telah melakukan tindakan tegas terhadap TPNPB”.

Sebagai kelanjutannya, Komandan Operasi Umum TPNPB, Mayor Jenderal Lekagak Telenggen dalam siaran pers TPNPB pun membenarkan kejadian ini dan menyampaikan bahwa yang tewas dalam kontak senjata ini adalah Mayor Pensiun Mudah Waker, Sersan Mayor Moni Waker, Mayor Lani Magai, dan Letnan II Lera Magai. Sedangkan yang terluka adalah Letkol Epina Magai dan Letnan I Sikop Lawiya Magai. Atas kejadian ini, TPNPB menuntut agar Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat menghentikan operasi PT Freeport Indonesia.

Munculnya perang ini menimbulkan tanda tanya besar mengenai upaya rekonsiliasi yang dilakukan Pemerintah Indonesia. Perbedaan visi dan ideologi dalam membangun Papua, disinyalir menjadi penyebab gagalnya rekonsiliasi. Bertahannya kedua pihak, TNI/Polri dan TPNPB, pada pendapat masing-masing pun menyebabkan Tembagapura terus diwarnai ketakutan. Masalah ini diperparah dengan jumlah pengungsi yang terus-menerus dihantui kontak senjata. Hak atas rasa aman, kesejahteraan, terutama hak untuk hidup, sangat terancam.

Beberapa pertanyaan yang layak diajukan ialah, apakah sudah tidak ada lagi jalan damai? Mengapa jalan perang yang dipilih? Di manakah empati terhadap korban perempuan dan anak-anak yang menderita akibat perang ini? Singkatnya, apakah Papua harus terus menangis? Hentikan perang! Bumi Papua sudah muak dengan darah dan air mata. Pemerintah RI dan TPNPB harus melepaskan ego masing-masing dan bertemu di bawah pengawasan lembaga independen untuk satu kata, DAMAI. (Kr)

 

Share This Article

Related Articles

Comments (145)

Leave a Comment

Liputan Video

Video Lainnya

Daftar

Gallery