pasang iklan

Masyarakat Kuri Harap Pemda Tetapkan Tarif Perjalanan di Bintuni

BINTUNI, JAGAPAPUA.COM - Keberadaan moda transportasi yang tangguh merupakan sarana vital untuk mendukung aktivitas masyarakat di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat diantaranya untuk menempuh perjalanan jauh antar kabupaten maupun ke daerah pedalaman.

Maikel Manggara merupakan seorang sopir Hilux yang biasa melayani penumpang antar kabupaten. Menurutnya, mobil tipe ini yang berkapasitas penumpang 4 orang cukup tangguh untuk menempuh perjalanan jauh dengan medan berat.

Maikel menyebut pihaknya selama ini menerapkan tarif perjalanan yang sewajarnya bagi para penumpang lantaran menurutnya hingga saat ini belum ada ketetapan harga atau tarif perjalanan dari dinas terkait.

“Saya biasanya mengambil penumpang dari masyarakat Kuri dan Wamesa. Untuk harga disesuaikan saja paling tinggi Rp 6 juta, itu carteran. Karena belum ada ketetapan harga dari dinas terkait, jadi kami juga patok harga yang wajar-wajar saja bagi masyarakat,” ujarnya kepada media ini, Rabu (31/5/2023).

“Untuk keamanan, saya pastikan oli, ban dan rem semua saya periksa dengan baik karena berkaitan dengan keselamatan semua penumpang. Lama perjalanan dari Bintuni Werianggi saya tempuh biasanya 4 jam sampai 5 jam. Itu kalau lewati jalan Tirasai. Jadi kita lewati Tirasai ikuti jalan logging tembus di jalan Trans Papua Barat  tepatnya di kampung Karwan, distrik Nikiwar, kabupaten Teluk Wondama,” sambungnya.

Selama perjalanan, Maikel juga memanjakan penumpang dengan musik khas daerah seperti Mambesak agar terhibur selama dalam perjalanan. Ia juga mengajak penumpang untuk berdoa sebelum berangkat sesuai kepercayaan masing masing.

“Saya juga menyediakan air minum mineral serta snack bagi penumpang saya. Dan ini adalah bagian dari pelayanan saya kepada masyarakat yang tinggal di kampung-kampung,” demikian ungkap Maikel Manggara.

Sementara itu, Mera Efredire, salah seorang penumpang bersama keluarganya hendak pulang ke kampungnya yakni Kampung Naramasa, Distrik Kuri. Keluarga ini juga memilih moda transportasi mobil hilux untuk perjalanan menuju ke kampung halaman.

“Hari ini saya bersama istri saya dan anak saya Helin, juga tantenya Austa, dua orang bapadenya Natanyel dan Berto, kami mau pulang ke kampung kami di Naramasa. Nanti kami turun di Jembatan Merah baru kami ikut perahu longboat ke Naramasa kurang lebih satu setengah jam,” katanya.

“Harapan kami, pemerintah bisa melihat jalan yang terkoneksi langsung dengan jalan Trans Papua yang masih rusak dan menetapkan harga tarif kendaraan bagi sopir antar distrik di kabupaten Teluk Bintuni,” ucapnya lagi. (MW)

Share This Article

Related Articles

Comments (1397)

Leave a Comment

Liputan Video

Video Lainnya

Daftar

Gallery