pasang iklan

Pdt Herman Harap 2 Bupati Saireri Klarifikasi Pernyataan Soal DOB

JAGAPAPUA.COM - Pdt. Em Herman Awom menanggapi sambutan Bupati Biak Numfor Herry Ario Naap dan Bupati Kepulauan Yapen Tonny Tesar terkait dengan pemekaran atau pembentukan Daerah Otonom Baru (DOB) di tanah Papua. Menurut Pdt Herman, sambutan tersebut provokatif dan menyinggung etnik-etnik di wilayah adat Papua.

“Anak Bupati BiNum H.Nap Yksh dalam Nama Tuhan Yesus Kristus. Setelah kamam dengar Narasi Sambutan Bupati BiNum sebagai ketua asosiasi bupati-bupati Saireri maupun narasi sambutan Bupati Kep. Yapen Tony Tezar sebagai Ketua Pemekaran DOB Provinsi Saireri, kedua sambutan berapi api. Itu sangat provokatif dan agak menyinggung perasaan satu, dua, tiga etnik wilayah adat Papua,” ujar Pdt. Em Herman Awom dalam keterangan tertulis yang diterima, Rabu (6/4/2022).

Oleh sebab itu, Pdt Herman berharap pernyataan tersebut dapat segera dikoreksi dan diklarifikasi agar tidak menimbulkan konflik horizontal di tujuh wilayah adat di tanah Papua. Ia juga berharap seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga kedamaian tanah Papua.

“Kamam mohon sudilah kiranya segera dikoreksi jangan sampai menimbulkan konflik horizontal dengan sesama etnik OAP di tujuh wilayah adat Tanah Papua yang kita cintai ini. Bolehkah anak bupati dong dua segera klarifikasi dan bila perlu minta maaf sebelum sekam ini akan menjadi api besar yang menghancurkan sesama anak negeri Tanah Papua. Jika berkenan dari anak Bupati dong dua. Ini pikiran sederhana dari sesepuh Saireri dan sesepuh GKI Di Tanah Papua,” ungkap Pdt. Herman.

Sebelumnya, Bupati Biak Numfor, Herry Ario Naap menyampaikan bahwa Saireri terus berbenah diri dan terus menjaga negara kesatuan Republik Indonesia. Ia menyampaikan bahwa Papua adalah bagian integral dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Namun yang menjadi pertanyaan juga bagi kami hari ini dalam pergumulan ketika undang-undang nomor 2 tahun 2021 ditetapkan daerah otonomi khusus, hadirlah pemekaran di tanah Papua, lalu hadirlah Papua Selatan Papua pegunungan hadirlah Papua Tengah lalu kami Saireri karena kami diam-diam yang sudah kami tenang saja,” ujarnya dalam Rapat Koordinasi Pembangunan Kesejahteraan Wilayah Adat Saireri.

“Kami tidak mau hari ini saya selaku Ketua Asosiasi, saya menerima aspirasi dari tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda yang melakukan deklarasi/pertemuan mengejar kami para bupati. Jadi kami hadir di Jakarta bukan mengambil keinginan para bupati tapi kami mengantar aspirasi dari seluruh elemen masyarakat,” sambungnya.

Herry menambahkan, ketika sebanyak 34 poin Otonomi Khusus jilid II menuai penolakan, rakyat Saireri menyatakan setuju. Salah satu poin diantaranya adalah meminta wilayah adat saireri menjadi Daerah Otonom Baru (DOB).

“Sehingga mereka tanya saya selaku ketua Asosiasi, pak bupati kemarin kau yang datang kemari bilang Kementerian Dalam Negeri meminta Pak Bupati menjelaskan ke masyarakat bahwa pentingnya Otsus jilid 2 bersama-sama dengan sesepuh kami Bapak Michael Manufandu hadir, saya harus kembali dan menyampaikan kepada rakyat dan rakyat setuju,” ujarnya.

“Kami minta salah satu poinnya adalah DOB. Kenapa hari ini setelah otsus jilid II pemekaran ditetapkan kami tidak ada. Malah daerah yang konflik-konflik, yang selalu minta Merdeka, yang minta keluar dari NKRI dikasih DOB lalu kami yang selalu membela NKRI tidak dikasih. Apakah kami juga harus minta merdeka baru dikasih,” sambungnya.

Lebih lanjut, Herry berharap kepada Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) untuk menyampaikan pesan tersebut kepada Presiden Joko Widodo. Herry juga menyebut mayoritas masyarakat Saireri mendukung Presiden Jokowi dalam dua periode saat pemilihan Presiden lalu. Herry juga menyebut Saireri merupakan garda terdepan NKRI di tanah Papua.

“Saya berharap pesan ini sampai ke bapak Presiden Joko Widodo. Pesan politik pertama, kami wilayah adat Saireri periode pertama dan periode kedua 90% suara buat bapak Jokowi. Ini pesan politik dulu, yang pesan politiknya adalah periode pertama dan kedua bapak Jokowi 90% di wilayah Saireri. Jangan bapak Presiden turun tidak ada legacy di wilayah kami maka harus ada legacy yang ditinggalkan. Bagian kedua adalah kami adalah Garda terdepan NKRI di tanah Papua, pahlawan-pahlawan Tanah Papua semua orang-orang Saireri,” ungkapnya.

Share This Article

Related Articles

Comments (0)

Leave a Comment

Liputan Video

Video Lainnya

Daftar

Gallery