pasang iklan

Cuaca Ekstrem Sorong Disebut Akibat Aphelion, Ini Kata BMKG

SORONG, JAGAPAPUA.COM - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi Dan Geofisika (BMKG) Papua Barat membantah informasi yang beredar mengenai Fenomena Aphelion. Sebelumnya, beredar informasi yang menyebutkan bahwa cuaca ekstrem dan cuaca dingin yang terjadi di Kota Sorong disebabkan oleh Fenomena Aphelion 2022.

Seperti dilansir dari Kompas, Sabtu (26/2/2022), Kepala BMKG menjelaskan bahwa terdapat sejumlah faktor lokal yang menyebabkan curah hujan di Papua Barat cukup tinggi. Menurutnya, sejumlah wilayah di Papua dan Papua Barat termasuk non zona musim yang sehingga curah hujan setiap bulannya kedua wilayah ini lebih tinggi dari 200 MM.

Lebih lanjut, faktor lain yakni daerah Sorong Raya yang dikelilingi laut juga mendukung tingginya curah hujan yang terjadi. Sehingga, curah hujan dan cuaca ekstrem yang terjadi di Kota Sorong sama sekali tidak berkaitan dengan fenomena tertentu. Oleh sebab itu, masyarakat diimbau untuk tidak mudah mempercayai informasi yang beredar dan perlu memastikan kebenaran informasi yang diterima.

Sebuah narasi sebelumnya juga menyebutkan bahwa cuaca akan terasa dingin di awal tahun hingga Agustus 2022 mendatang diakibatkan fenomena aphelion. Fenomena tersebut diklaim terjadi karena Bumi berada sangat jauh dari Matahari. 

Dilansir dari  laman resmi Kemkominfo, 5 januari 2022, Plt Deputi Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Urip Haryoko mengatakan, cuaca dingin yang terjadi di Indonesia tidak benar jika disebut disebabkan oleh fenomena aphelion. Ia menambahkan cuaca dingin disebabkan oleh periode musim hujan, bukan karena Bumi berada di titik terjauh dengan Matahari.

Memang benar bahwa fenomena aphelion terjadi ketika titik Bumi berada paling jauh dengan Matahari. Hal ini karena bentuk orbit tidak berbentuk bulat sempurna, melainkan elips. Namun, cuaca dingin di beberapa wilayah Indonesia tidak terkait dengan fenomena aphelion. Secara umum wilayah Indonesia berada pada periode musim penghujan dengan masa puncak terjadi pada Februari 2022, sehingga menyebabkan penurunan suhu. (UWR)

Share This Article

Related Articles

Comments (0)

Leave a Comment

Liputan Video

Video Lainnya

Daftar

Gallery