Dua Ibu Pelaku Sejarah Berdirinya Gereja Betel Idoor Bintuni. [Foto: MW]
BINTUNI, JAGAPAPUA.COM - Perayaan HUT ke-36 pembangunan Gereja Betel Idoor di kampung Idoor, Distrik Wamesa, Kabupaten Teluk Bintuni dirayakan pada Selasa, 14 Desember 2021 bertempat di Gedung gereja Betel Idoor. Gereja yang berdiri dengan gaya kontruksi klasik ini dahulu didirikan oleh para orangtua yang berdiam di kampung Idoor. Beberapa diantara mereka kini sudah meninggal dunia.
Menurut pendeta Kuri Arumsore, gereja Betel Idoor ini saat didirikan belum ada peralatan pertukangan yang lengkap seperti saat ini. Pahatan pada tiang pilar gereja dipahat menggunakan paku yang dipanaskan dan digunakan sebagai alat pemahat kayu. Selain itu, gaya pahatannya adalah gaya arsitektur klasik ala Papua. Gereja Betel Idoor dibangun dengan satu menara lonceng di atas diletakkan satu salib Kristus.
Ukiran indah khas Wamesa nampak menempel pada enam kayu pilar yang berdiri kokoh menahan bangunan gereja. Keenam pilar kayu itu melambangkan enam marga besar di dalam kampung Idoor yakni Waney, Samaduda, Kawab, Nasei, Beperandi dan Idorwai yang yang ada pada saat gereja ini dibangun.
Pada perayaan ulang tahun gereja Betel Idoor ini hadir pula dua orang ibu yang pada usia mudanya turut berpartisipasi dalam pembangunan gereja. Kedua mama tua ini berasal masing-masing dari marga Nasey dan Waney. Keduanya menyampaikan bahwa dahulu mereka memikul kayu dari hutan dan dibawa ke lokasi pembangunan gereja. Dan kini usia mereka sudah 76 tahun.
Pendeta Kuri Arumsore menantang para pemuda saat ini baik yang berada di kampung dan yang sudah menjadi pejabat. Ia menyampaikan apa yang dapat diperbuat para generasi saat ini terhadap kondisi gereja Betel Idoor di umurnya yang ke-36 tahun.
“Apabila dahulu orangtua kita dengan peralatan seadanya bisa membangun gereja seindah ini untuk kita anak cucu bisa gunakan untuk beribadah kepada Tuhan. Kalau begitu kita yang saat ini, kira-kira apa yang bisa kita buat atau lakukan terhadap Gereja Betel Idoor ini. Mampukah kita membangun gereja baru seperti orangtua kita ataukah kita biarkan saja yang ada ini dan kita cukup merawatnya. Semua kembali berpulang kepada kita anak-anak Wamesa,” ujarnya. (MW)
Share This Article