pasang iklan

Mengenal Dekat Sosok Pemain Bola Asal Papua Alosius Serang

BINTUNI, JAGAPAPUA.COM - Nama Alosius Serang terdengar tak asing di dunia sepak bola tanah air. Alosius yang akrab disapa Alo adalah anak keempat dari 12 bersaudara. Alo merupakan blasteran Papua, ibunya Marga Kocu dan ayahnya seorang guru asli dari suku Weriagar Kabupaten teluk Bintuni.

Alosius yang lahir di Enarotali provinsi Papua semasa kecil menghabiskan waktunya bersama kedua orang tuanya yang merupakan tenaga pendidik. Ayahnya waktu itu mengajar di daerah-daerah pedalaman Papua dan perjalanan karir ayahnya sebagai seorang guru mulai bertugas dari pedalaman Enarotali Papua selanjutnya ditugaskan di Bintuni kota.

Alosius Serang menyelesaikan Sekolah Menengah Atas di SMA Agustinus Kota Sorong Papua Barat pada tahun 1988. Kemudian, pada tahun 1989, ia terpilih oleh bersama Ishak Vakdawer dan Aji Mayor. Sejak saat itu Alo terus berlatih sepak bola hingga dirinya terpilih untuk berangkat bertanding namun ia memilih untuk tinggal karena pada saat itu, ia harus mempersiapkan diri untuk ujian kenaikan kelas 3 SMA. Selanjutnya, pada tahun 1990 ia berangkat untuk menempuh pendidikan tinggi di Yogyakarta.

“Saat saya sampai di Jogja, saya mendapatkan informasi bahwa sore hari ada pertandingan antara klub asal Irian Jaya dengan Indonesia muda Yogyakarta. Karena saya hobinya bola langsung turun lapangan dan bermain lalu diambil oleh manajer Indonesia Muda Jogja Bapak Sugiarto untuk masuk bergabung dalam grupnya Indonesia Muda Yogyakarta,” ujarnya.

Alo mengatakan ketika bergabung dengan Indonesia Muda Jogja mereka latihan selama 1 minggu dan langsung tur ke Salatiga lawan Diklat Salatiga Indonesia persis Salatiga di, selama bermain di Salatiga halo tinggal di didik di Diklat Salatiga selama satu tahun tuju bulan dan ia kembali ke Jogja atas permintaan manajer Indonesia Muda Sugiarto untuk memperkuat divisi 2 Indonesia moeda djogdja melawan dan untuk memperkuat divisi 2 mereka melawan Kulom Progo,Bantul,Wono Sari yakni dari kabupaten ke kabupaten yang masih satu provinsi yaitu provinsi Yogyakarta.

Setelah memperkuat divisi 2 Indonesia Muda Yogyakarta ia berlanjut ke Cilacap melawan Pertamina Cilacap. Saat itu ia bertemu dengan saudaranya dari Bintuni yaitu Kuri Werbete yang saat itu mewakili Pertamina Cilacap tahun 1991 masuk 1992. Di tahun 1962 Indonesia Muda Jogja berhasil lolos divisi 2 dan melawan Indonesia muda dari Kawasan Timur. Saat itu menurut Alo yang datang adalah dari Kota Ternate.

Di tahun 1994-1995 Indonesia Muda Jogja tidak lolos, selanjutnya di tahun 1995 ia dipanggil mewakili Jogja ke Medan pada Pekan Olahraga Nasional di Medan. Di Medan berlangsung selama 2 minggu dan kembali ke Jogja tahun 1995 divisi 2 lolos dan menunggu play off dari Papua. Kemudian, saat itu Persis Sorong masuk divisi 1 melawan Persis Jakarta Selatan. Menunggu play off kota Sorong, Alo yang tergabung di Indonesia telah berhasil menumbangkan Persis kota Sorong (3:0); dan akhirnya Indonesia Muda Jogja naik ke divisi satu sedangkan Sorong jatuh ke divisi 2.

Alosius Serang yang bermain multifungsi menyampaikan apabila bermain di kandang sendiri, ia sebagai pemain bertahan atau gelandang bertahan. Menurutnya, hal itu di Persipura sering disebut sebagai breaker atau gelandang bertahan. Namun apabila bermain keluar kandang, Alo bermain sebagai striker depan. Ia mengaku jika mengalami krisis pemain maka oleh pelatihnya, Alo didorong ke tengah dan apabila ada bola-bola pelanggaran, Alo ditugaskan mengambil dan mengeksekusi.

Selanjutnya, di tahun 1965 - 1996 Alo masuk divisi 1 melawan Jepara, Banyuwangi, Denpasar Kabupaten Bali, Dofonsolo atau versi dobon. Di tahun 1996 hingga 1997 kompetisi bola agak macet akibat krisis yang terjadi. Kemudian, di tahun 1998 Indonesia Muda Jogja main malam hari penentuan dengan Persib Kota yang waktu itu diperkuat oleh Meki Polalo, Noak Maryen, Pusman Hadi yang merupakan mantan-mantan pemain Persija. Menurut Alo saat melawan Persib Kota karena, timnya tidak memiliki dana.

“Dimana lagi kalau kalah kita bersyukur kita bertahan, kata Bupati Sleman. Karena Kabupaten Sleman bukan Kabupaten industri,” ujarnya.

Saat bermain dengan Kota Ternate di menit terakhir, Alo berhasil mencetak satu gol dan di putaran kedua melawan Persib kota, timnya kalah dan Persib Kota lolos main ke divisi utama. Lalu, di tahun 1999-2000, Alo pada masa-masa penyusunan skripsinya dan saat akan wisuda Alo masih bermain bola di Bea Cukai Jakarta dan Alo melawan Indonesia Mataram.

“Manajemen di sana kalau harus melawan tekan-tekan sinyalnya di Indonesia Mataram manajemen di situ ada permainan sawur, Dicky Satrio, mereka ini adalah pemain-pemain top klubnya Irswan Idris dari PSM Mataram yang mereka beli dan ketika bermain mereka dari Bea Cukai, mereka menang dan lolos ke Divisi Utama menumbangkan PSM Mataram,” jelasnya.

Saat itu, Alo yang telah menyelesaikan studinya di Jogja kemudian pamit untuk pulang ke Papua. Alosius serang merasa senang karena selama kuliahnya ia menjamin kuliahnya dari dunia bola dan dana pendidikannya juga dibantu dari Kopertis. Sehingga ia merasa benar-benar mandiri dan tidak bergantung pada kedua orang tuanya hingga berhasil. (MW)

Share This Article

Related Articles

Comments (1)

  • Meebata

    I have the same issue with taking GABA, L theanine and magnesium in most of its forms levitra prix discount

Leave a Comment

Liputan Video

Video Lainnya

Daftar

Gallery