pasang iklan

Irsyad Rumagia : Politik Kepartaian Berhubugan Erat dengan Semua Aspek Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

JAKARTA, JAGAPAPUA.COM-Pemerhati politik, Muhammad Irsyad Rumagia mengatakan, proses demokratisasi di Indonesia, sejatinya baru dimulai pasca runtuhnya pemerintahan Orde Baru pada tahun 1998. Diawali oleh Presiden ke 3, Baharudin Jusuf Habibie, demokrasi Indonesia terus mengalami perbaikan meski dalam perjalanannya penuh dinamika dan tantangan.

Menurutnya, hingga saat ini, proses demokratisasi Indonesia sudah mulai menunjukkan kematangannya. Mulai dari proses pemilihan umum, baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah, hingga dalam lingkup kecil seperti proses pemilihan Ketua Umum sebuah organiasi maupun Partai Politik.

“Ambil contoh saja, di internal Partai Politik kematangan demokrasi itu sudah sangat tampak. Awalnya bergejolak, dinamikanya hebat, tetapi proses konsolidasinya selalu berakhir dalam suasana kekeluargaan serta mampu menonjolkan kedewasaan,” kata Irsyad di Jakarta, Sabtu (18/1/2020).

Pernyataan Irsyad tersebut mengacu pada proses konsolidasi di internal Partai Golkar menjelang dan pasca Musyawarah Nasional yang digelar Desember 2019 lalu.

Pemuda yang kini tengah meniti karirnya di dunia usaha itu berpendapat, menjelang Munas ke X, gejolak dinamika di internal partai berlambang pohon beringin begitu kencang. Namun, pada akhirnya selesai dengan proses musyawarah mufakat, dimana Airlangga Hartarto kembali dipercaya sebagai Ketua Umum.

“Bayangkan, bagaimana kedewasaan demokrasi itu ditunjukkan oleh elit-elit Partai Golkar. Sebelum Munas di buka, mereka mengadakan pertemuan, dan terjadilah kesepakatan untuk mengangkat kembali pak Airlangga,” ujar pemuda asal Seram Bagian Timur, Maluku itu.

“Kekisruhan yang dikhawatirkan akan terjadi saat Munas Golkar, terpatahkan dengan sendirinya. Semua kembali cair dan saling berangkulan. Ini adalah bukti kedewasaan demokrasi kita,” urainya.

Tak cukup sampai disitu, kata dia. Pasca Munas Golkar, sebagai orang yang diamanatkan forum Munas untuk kembali memimpin Partai Golkar, Airlangga dan para elit partai terus melakukan konsolidasi, hingga terbentuknya kepengurusan baru.

Irsyad sendiri mengapresiasi sikap politik Airlangga. Menurutnya, Menko Perekonomian itu sama sekali tidak mengutamakan ego dalam menyusun struktur partai. Bahkan, ia mampu menyatukan segala perbedaan pandangan politik di internal Golkar.

“Kalau orang yang tidak dewasa dalam politik, dia pasti akan sesukanya menyusun struktur partai. Tapi pak Airlangga tidak, justru dia merangkul orang-orang yang sempat berseberangan dengan dia. Pak Bambang Soesatyo diangkat sebagai Wakil Ketua Umum,” katanya.

Selain itu, Irsyad juga menyoroti formasi kepengurusan DPP Partai Golkar yang menurutnya banyak diisi oleh kalangan muda. Ia menilai, dengan formasi demikian, Golkar sedang bergerak menuju organisasi Partai Politik yang modern.

“Pak Airlangga adalah orang yang selalu bicara industri 4.0. Jadi beliau paham betul tantangan masa depan itu seperti apa. Sesuai pernyataannya saat Munas Golkar, dia akan menjadikan Golkar ini 4.0. Ini bagus dan patut diapresiasi.

Adapaun pandangan negatif terhadap kepengurusan Partai Golkar hari ini, baik dari internal maupun dari eksternal, menurut dia itu sesuatu yang wajar. Kata dia, sebagai manusia biasa dengan keterbatasan yang dimilikinya, Airlangga tidak mungkin dapat memuaskan semua orang.

“Kalau ada yang belum puas. Pak Airlangga memang bukan alat pemuas. Itu wajar dan sah-sah saja. Tapi ketidak puasan itu menjadi tidak wajar kalau ditunjukkan dengan sikap tidak elegan. Dengan kata lain, karena tidak dapat jatah kue, karena kuenya terbatas, akhirnya tuan rumah yang disalah-salahi. Itu tidak wajar menurut saya,” beber Irsyad.

Lebih lanjut, Irsyad mengajak semua pihak untuk mengikuti proses demokratisasi di tanah air. Terlebih mengenai dinamika dan demokratisasi di internal Partai Politik. Kata dia, dinamika internal Partai Politik, sangat erat kaitannya dengan kebijakan pemerintah yang mengatur seluruh aspek kehidupan bangsa.

“Saya bukan kader partai. Tapi, saya sangat sadar bahwa Partai Politik adalah penggerak kebijakan pemerintah. Seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara digawangi oleh Partai Politik. Saya pengusaha, tapi konsen juga sebagai pemerhati politik kepartaian. Karena dinamika Partai Politik, pasti akan ada pegaruhnya pada dunia usaha. Meski tidak secara langsung,” tutup Irsyad. (Desse).

Share This Article

Related Articles

Comments (154)

Leave a Comment

Liputan Video

Video Lainnya

Daftar

Gallery