pasang iklan

Cerita Rasisme Yang Harus Segera Diakhiri

JAGAPAPUA.COM -  Anggota Aktif Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) St. Efrem Cabang Jayapura, Papua, Soleman Itlay ikut berkomentar terkait tulisan Ambroncius Nababan yang melontarkan tulisan rasis Pada Tokoh Papua Natalius Pigai.

Menurutnya, masalah rasisme memang masih sering terjadi di Indonesia yang telah merdeka selama 75 tahun. Hal itu tidak hanya terjadi di tempat-tempat umum, tetapi di dalam gereja di Papua juga sering terjadi.

"Tentu sayang sama Natalius. Tapi sedih juga. Karena ternyata ada dan masih saja orang Indonesia yang rasis sama Natalius, dan lebih dari pada itu bagi semua orang Papua, termasuk para pemain Persipura, klub lain, cabang olahraga lainnya yang sering mengalami ujaran dan tindakan serupa di lapangan hijau atau dimana saja." tulis Soleman dalam akun Facebooknya.

Ia pun menceritakan peristiwa rasisme yang sering ia alami sendiri di tanah Papua.

"Sekarang kita bicara soal rasisme di gereja katolik (Papua). Saya sering naik taksi, Entalah mau ke sekolah, kampus, rumah sakit, kantor dan termasuk ke gereja sekalipun. Saya jalan diatas tanah tumpah darah saya, Papua. Tapi di dalam taxi itu kadang kala saya temukan orang yang lebih rasis dari sekedar mengucapkan "monyet, kera, gorila, kadal dsb. Saya pernah naik taxi dari Waena ke Abe. Di dalam taxi itu ada orang non Papua yang sudah lebih dulu ada di dalamnya. Lalu saya masuk. Saya sudah mandi, pakai parfum, dan kalau lupa atau buru-buru memang tidak mandi dan tidak pakai parfum.

Kadangkala badan keringat karena tunggu taxi lama dan kena matahari. Kadang kala kala tidak keringat dan tidak bau busuk, karena sudah mandi, atau cuaca alam (kota) yang mendung mendukung itu. Tapi saya merasa terpukul ketika orang pendatang balik muka, tutup hidung dan mulutnya. Ini lebih menyakitkan." urai Soleman menyebutkan pengalamannya.

Tak hanya di dalam angkutan umum, kejadian rasis serupa juga dialami masyarakat Papua di dalam gereja. Soleman menyebut, sebagian sikap rasis itu ditunjukkan saat ada sebagian masyarakat yang enggan untuk duduk berdekatan dengan orang Papua.

"Hampir sama dengan kejadian di gereja katolik. Di paroki-paroki kota besar saya sering lihat sendiri, dengar dari umat yang lain dan kadang mengalaminya sendiri. Kalau ada orang Papua duduk di sebuah tempat, apalagi pakaiannya kotor, tubuhya kotor dan bau busuk, saudara/i kami dari non Papua tidak bisa duduk dekat dan satu deretan." jelasnnya.

Share This Article

Related Articles

Comments (3)

  • Uskgzb

    buy stromectol canada - ivermectin price uk stromectol price us

  • Rubpzc

    cost for tadalafil - cialis tablets uk cialis capsule

  • Ldqhlz

    80mg tadalafil - levitra cialis order cialis from mexico

Leave a Comment

Liputan Video

Video Lainnya

Daftar

Gallery