pasang iklan

Jelang Kongres Sunda, Senator Filep Terima Iket dan Keris Sunda

JAWA BARAT, JAGAPAPUA.COM - Dr. Filep Wamafma, SH., M.Hum hadir sebagai narasumber sekaligus menjadi tamu kehormatan setelah menerima iket dari suku Sunda, Provinsi Jawa Barat pada Minggu, 27 Desember 2020 di Hotel Sutan Raja Soreang Kabupaten Bandung.

Acara tersebut digelar dalam rangka pra Kongres Sunda yang akan dilaksanakan 2021 mendatang yang diagendakan dibuka oleh Presiden RI Joko Widodo dan ditutup Wakil Presiden RI KH Ma'ruf Amin. 

Iket sunda merupakan simbol budaya yang diberikan sebagai salah satu simbol kelengkapan berbusana adat Sunda kepada setiap tamu yang pertama kali hadir ditengah-tengah suku Sunda, namun iket memiliki banyak makna filosofis.

Arti dari kata iket sendiri adalah Ikat atau ikatan, dikenal juga dengan sebutan totopong. Dalam kesempatan itu tetua adat Sunda melingkarkan iket di kepala, namun cara membentuk ikatan, bisa disesuaikan masing-masing.

Dahulu, warna iket hanya terbatas hitam atau putih, tetapi seiring perkembangan zaman, kini warna iket bisa bervariasi, bahkan motif dan corak iket pun terus berkembang.

Iket di Bali dikenal dengan istilah Udeng. Dalam sejarah iket, antara iket Sunda dan udeng Bali terdapat hubungan erat meski mempunyai bentuk dan model berbeda.

Lipatan dan ikatan pada iket mempunya arti dan makna filosofi yang berkaitan erat dengan fungsi pekerjaan seseorang zaman dulu.

Dengan demikian iket menjadi warisan budaya leluhur yang perlu dilestarikan karena mengandung arti yang begitu tinggi.

Bentuk iket yang berbeda bukan melambangkan kasta, kedudukan, atau status sosial di masyarakat tetapi menunjukan fungsi pekerjaan Si Pemakai, karena suku Sunda tidak mengenal kasta tetapi "sejajar" sesuai dengan istilah Padjadjaran (Pajajaran) yang mengandung arti "sejajar" atau "kesejajaran".


Bentuk Iket

Berdasarkan sejarah iket, awal mula bentuk iket atau totopong adalah persegi (segi empat) yang melambangkan dulur opat kalima pancer. "Si eta mah geus masagi", kata Ki Dadang yang menunjukkan seseorang yang sempurna dan menguasai ilmu pengetahuan di bidangnya. Asal kata "masagi" adalah "pasagi" yang dalam bahasa Indonesia artinya Persegi.

Pengertian lain, sebagian sesepuh mengartikan bentuk segi empat yang terdiri dari empat sudut melambangkan unsur-unsur yang ada pada diri manusia yakni air, api, udara/ angin, dan tanah.

Kemudian di Tatar Sunda, empat unsur tersebut dikenal dengan istilah "acining hirup" sesuai dengan asal mula kehidupan manusia dari saripati tanah. Sedangkan kalima pancer mengandung arti terpusat atau terpancar kepada Tuhan Pencipta alam semesta.

Pengertian lain adalah opat kalima pancer melambangkan sifta-sifat dasar manusia yang harus seimbang dan harus dimanfaatkan dengan tetap berpedoman kepada aturan Tuhan. Sebagai contoh, sifat amarah (unsur api) harus seimbang dengan sifat tenang dan sejuk (unsur air).

Jadi hal ini sebenarnya erat hubungannya dengan arti keimanan manusia terhadap Tuhannya. Iket Segi Empat, contoh kain segi empat sebelum dilipat dan dibentuk iket.

Beberapa budayawan Sunda mengartikan bentuk segi empat dengan empat arah utama mata angin yang selalu dipakai dalam peta dan tataletak nusantara yakni Utara, Barat, Timur, dan Selatan.

Dari empat arah utama ini muncul turunannya yaitu Tenggara, Barat Daya, Tumur Laut, dan Barat Laut yang semuanya berfungsi sebagai pedoman dan penunjuk arah. Dalam filosofi iket arah di sini adalah arah dan tujuan hidup manusia.

Dari bentuk segi empat kemudian dilipat menjadi segitiga yang berarti Tritangtu. Menurut Ki Dadang lipatan ini sudah membentuk sebuah sistem yakni karamaan, karesian, dan karatuan.

Karamaan berati kebijakan, karesian berati ilmu pengetahuan, dan karatuan berati gerakan. Ketiga komponen terebut tidak boleh dipisahkan dan harus tetap seimbang.

Iket Segitiga
Contoh kain segi empat, yang sudah dilipat menjadi segitiga.

Di antara seniman Sunda ada yang mengartikan mengartikan dengan yudikatif, legislatif, dan eksekutif. Makna lain dari segitiga adalah hablu minallah, hablu minannas, dan habluminal alam yang melambangkan hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan lingkungan dan alam sekitar.

Dari segitiga harus dilipat sebanyak lima lipatan yang menunjukkan Rukun Islam. Secara logika, jika jumlah lipatan dikurangi maka bentuk iket akan lebih besar ke atas sedangkan jika jumlah lipatan iket ditambahh maka bentuk iket akan sangat pendek dan tebal. Hal ini tentu akan bertentangan dengan fungsinya seperti pada sejarah iket Sunda.


Lipatan dan Ikatan pada Iket

Secara filosofi, teknik melipat iket dan cara memakainya dapat menjadi pengingat Si Pemakai terhadap fungsi pekerjaan, arah dan tujuan hidup, dan keseimbangan hunbungan vertikal dan horizontal yang harus selalu seimbang. Hal ini erat hubungannya dengan istilah Sunda sindir, sirib, siloka, sasmita, dan sunyata yang melambangkan lima sifat dasar manusia.

Jumlah lipatan dan bentuk ikatan pada iket mengandung makna khusus dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu jika sebuah iket (khusunya iket kiwari atau iket praktis) yang dibentuk tanpa memperhatikan iket buhun, maka itu tidak bisa disebut iket dalam arti khusus tetapi hanya ikat kepala biasa yang hanya berfungsi sebagai penutup kepala atau mode karena maknanya sudah tidak lagi sesuai dengan warisan leluhur. Jumlah lipatan pada iket adalah lima yang melambangkan rukun Islam yakni syahad, sholat, zakat, puasa, dan haji.

Filosofi Iket Sunda
[Contoh lipatan pada iket kiwari/ Iket Praktis]

Iket dipasang dengan cara dilipat dan diikat di kepala yang berarti dulu orang harus mempunyai ikatan batin dan ikat silaturahmi sehingga bisa timbul kerjasama positif, saling tolong-menolong, dan gotong royong. Ikatan ini juga berati seluruh sifat manusia diikat dalam satu kebenaran yang hakiki.

Kata Ki Dadang, ikatan dibagian depan iket yang berbentuk huruf "V" bermakna kemenangan yang berasal dari kata "Victory". Ini melambangkan do'a dan harapan agar Si Pemakai selalu berada dalam kondisi sehat, prima, makmur, tentram, aman, dan sejahtera.

Filosofi Iket Sunda
[Contoh bentuk ikatan pada iket praktis]

Bagian atas depan yang dilipat ke bawah menunjukan kalungguhan atau rendah hati dan tidak sombong. Sedangkan bagian depan yang mengacung ke atas melambangkan semangat bahwa sudah saatnya kita bangkit.

Jika ikatan disimpan di belakang, maka ujung-ujung ikatan harus menghadap ke bawah sedangkan jika di depan, maka ujung-ujung ikatan harus menghadap ke atas.

Filosofi Iket Sunda

Model iket Barangbang semplak bagian atasnya terbuka, ini dimaksudkan karena para jawara umumnya bekerja dilapangan (outdoor) sehingga membutuhkan sirkulasi udara pada kepala yang lebih besar. Berbeda dengan iket yang biasa dipakai para petani seperti Parekos Jengkol yang bagian atasnya tertutup. Alasannya agar lebih teduh dari panas matahari sehingga kepala tetap dingin. Demikian juga dengan model-model iket lainnya dimana bentuk, ikatan, dan lipatan mengandung arti filosofi logis.


Secara etimologis, istilah "kujang" berasal dari kata kudihyang. Kudi merupakan kata dalam bahasa Sunda Kuno yang berarti senjata dengan kekuatan gaib dan sakti.

Kata Hyang juga berasal dari bahasa Sunda Kuno yang berarti dewa/dewi. Sumber lain menyatakan bahwa Kujang berasal dari kata Ujang, yang berarti manusia.

Secara umum, Kujang mempunyai pengertian sebagai pusaka yang mempunyai kekuatan tertentu yang berasal dari para dewa (Hyang), dan sebagai sebuah senjata, sejak dahulu hingga saat ini Kujang menempati satu posisi yang sangat khusus di kalangan masyarakat Jawa Barat (Sunda).

Sebagai lambang atau simbol dengan nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya, Kujang dipakai sebagai salah satu estetika dalam beberapa lambang organisasi serta pemerintahan.

Di samping itu, Kujang pun dipakai pula sebagai sebuah nama dari berbagai organisasi, kesatuan dan tentunya dipakai pula oleh Pemda Provinsi Jawa Barat.

Pada masa lalu Kujang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Sunda karena fungsinya sebagai peralatan pertanian. Pernyataan ini tertera dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian (1518 M) maupun tradisi lisan yang berkembang di beberapa daerah di antaranya di daerah Rancah, Ciamis. Bukti yang memperkuat pernyataan bahwa kujang sebagai peralatan berladang masih dapat kita saksikan hingga saat ini pada masyarakat Baduy, Banten dan Pancer Pangawinan di Sukabumi.

Dengan perkembangan kemajuan, teknologi, budaya, sosial dan ekonomi masyarakat Sunda, Kujang pun mengalami perkembangan dan pergeseran bentuk, fungsi dan makna. Dari sebuah peralatan pertanian, kujang berkembang menjadi sebuah benda yang memiliki karakter tersendiri dan cenderung menjadi senjata yang bernilai simbolik dan sakral. Wujud baru kujang tersebut seperti yang kita kenal saat ini diperkirakan lahir antara abad 9 sampai abad 12. (WRP)

Share This Article

Related Articles

Comments (0)

Leave a Comment

Liputan Video

Video Lainnya

Daftar

Gallery