pasang iklan

WALHI Papua Usulkan Pemerintah Uji Sampel Sungai di Kaptiau

JAGAPAPUA.COM - Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Papua mengusulkan agar pemerintah yaitu Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jayapura menguji sampel mutu kualitas air di dua sungai di Kampung Kaptiau, Sungai Maguwaho dan Sungai Porowai. Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui nilai indeks pencemaran air di kedua sungai tersebut terkait dengan kekhawatiran masyarakat terhadap kerusakan lingkungan akibat limbah perusahaan perkebunan sawit PT. RML.

Pernyataan usulan tersebut berasal dari Yunus Mattiseray, staf investigasi dari WALHI Papua yang disampaikan saat konferensi pers WALHI Papua pada jumat lalu (12/12). Ia mengatakan jika pemerintah bersedia melakukan hasil uji kualitas air di sungai tersebut akan memberikan perbandingan kondisi air di kedua sungai dengan hasil uji WALHI.

“Memang idealnya ada perbandingan (antara hasil uji) sampel (dari WALHI Papua dan pemerintah),” ucapnya.

Yunus mengatakan bahwa pihaknya telah bekerja sama dengan Laboratorium FMIPA Universitas Cenderawasih Jayapura untuk mengadakan uji sampel di kedua sungai tersebut pada oktober 2019. Hasilnya menunjukkan nilai indeks pencemaran air di Sungai Maguwaho adalah 12,63 atau diketegorikan tercemar sedang skala tiga. Sedangkan air Sungai Porowai diperoleh nilai indek pencemarannya dikategorikan cemar ringan skala empat.

Selain itu, pada riset tersebut juga diperoleh hasil yang memperkuat dugaan adanya pencemaran limbah sawit terhadap sungai-sungai di Kampung Kaptiau.

“Pada 2019 silam terjadi kematian massal ikan, kerang, kepiting dan biota sungai lainnya di sana. Kondisi ini mesti segera dibenah. Jika tidak, dapat berpengaruh pada biota perairan,” tegasnya.

Sementara itu, Ondoafi Kaptiau, Aser Yambai yang juga hadir pada konferensi pers tersebut mengkhawatirkan adanya kerusakan kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat adat Kampung Kaptiau. Ia mengatakan agar kearifan lokal yang ada tetap dijaga kelestariannya dari ancaman kepunahan.

“Jangan sampai (limbah sawit ini) merusak kearifan lokal. Kita mau potensi yang ada dijaga agar dapat dinikmati anak cucu. Jangan sampai limbah membuat biota sungai punah,” kata Aser Yambai pada konferensi pers WALHI Papua, jumat  lalu (18/12).

Selain itu, Aser Yambai juga menjelaskan bahwa terdapat dampak lain yang terjadi terhadap sungai di Kaptiau. Limbah sawit dari perusahaan itu telah menyebabkan banjir dan menjadikan air berubah keruh saat hujan. Menurutnya Kampung Kaptiau sebelumnya tidak pernah mengalami banjir dan tidak keruh seperti saat ini. [UWR]

Share This Article

Related Articles

Comments (820)

Leave a Comment

Liputan Video

Video Lainnya

Daftar

Gallery