pasang iklan

Siap-Siap Investasi Perusahaan Bumbu Asal Belanda Masuk Fakfak

JAGAPAPUA.COM - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menargetkan pembangunan hilirisasi industri pala untuk meningkatkan daya saing pala nasional di pasar dunia. Hal ini disampaikan oleh Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal BKPM, Ikmal Lukman. Menurutnya, investasi yang sangat strategis untuk hilirisasi industri komoditas pala berada di Papua Barat. Pasalnya, saat ini sebesar 70% produksi biji pala berasal dari Kawasan Timur Indonesia (KTI) dan menjadi yang terbesar secara nasional.

“Negara tujuan utama ekspor Indonesia adalah Belanda, Jerman, Vietnam dan Jepang. Permintaan dunia untuk produk pala akan meningkat sebab industri makanan, bumbu, kosmetika dan farmasi terus mengalami peningkatan. Bila kita melakukan hilirisasi akan tercipta nilai tambah bagi industri dan perekonomian nasional, utamanya Kawasan Timur,” ujar Ikmal Lukman melalui sebuah keterangan tertulis di Jakarta pada kamis (17/12).

BKPM telah memastikan rencana investasi perusahaan bumbu asal Belanda, Verstegen Spices & Sauces (Verstegen) untuk mengembangkan industri pala di Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Rencana investasi perusahaan eks VOC itu diketahui senilai Rp. 4,1 Triliun Hal ini merupakan tindak lanjut terhadap hasil kunjungan Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia ke Belanda pada bulan november lalu.

Lebih lanjut, Verstegen berkomitmen untuk bermitra dengan petani lokal yang direkomendasikan BPKM dengan memberdayakan sebanyak 50.000 petani pala. Komitmen tersebut termasuk dalam penyediaan teknologi proses pengupasam, pengeringan dan pembersihan pala. Selain dikenal sebagai importir rempah-rempah, perusahaan ini dikenal sebagai produsen pala terbesar di dunia yang memiliki pasar luas hingga ke Eropa.

Sementara itu, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia sempat mengatakan bahwa rencana investasi industri pala itu akan membangun seluas 40.000 hektare kebun pala di Kabupaten Fakfak dan Kabupaten Kaimana.

“Saya membawa oleh-oleh untuk Papua. Perusahaan yang dulunya VOC, akan membangun 40.000 hektare kebun pala di Fakfak dan Kaimana”. Ucap Bahlil bulan lalu.

Menurut Ikmal, hingga saat ini Bahlil Lahadia telah berkonsolidasi dengan Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Arif Satria. Arif Satria mengatakan bahwa Indonesia memiliki peluang untuk menjadi pemain utama pada sektor industri pala di dunia dan IPB menyatakan kesiapan untuk membantu BKPM dalam upaya pengembangan hilirisasi industri tersebut.

“Kekayaan alam berbasis rempah harus bisa dikelola dengan baik sehingga menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru yang mensejahterakan rakyat. IPB siap bekerja sama dengan BKPM dalam R&D pala sehingga pala lebih memiliki nilai tambah yang tinggi,” ungkap Arif Satria, dilansir dari Antara (17/12).

Share This Article

Related Articles

Comments (0)

Leave a Comment

Liputan Video

Video Lainnya

Daftar

Gallery