pasang iklan

I Have A Dream, Tanah Papua "Merdeka" dari Rasisme Sistemik

Ketika berbicara tentang pembunuhan warga sipil di Tanah Papua, maka mereka yang memonopoli "kebenaran dan hukum" di republik ini, menghukum black man and black woman pada ras Melanesia di Tanah Papua sebagai "orang jahat yang ingin makar terhadap negara".

Ketika berbicara tentang penolakan operasi militer dan dampaknya terhadap meluasnya kekerasan berdarah di Tanah Papua, maka mereka yang mengklaim diri sebagai "patriot sejati republik", menghukum "black man and black woman of Melanesian race" di Tanah Papua sebagai "kriminal yang ingin makar terhadap negara".

Ketika membicarakan tentang status Otonomi Khusus Papua sebagai "otonomi simbolik, otonomi palsu, otonomi basa-basi, otonomi superfisial/non substantive",maka mereka yang mengklaim diri sebagai "negarawan dan politisi sejati" akan menghukum para politisi dan aktivis Tanah Papua sebagai penghianat negara dan bagian dari kelompok separatis.

Ketika membicarakan soal "memori pelanggaran HAM di Tanah Papua" di ruang ruang diskusi kampus, maka mereka yang mengklaim diri sebagai "Pemilik Hak Asasi Manusia", menghukum black man and black woman of Melanesian race di Tanah Papua sebagai "kriminal yang ingin makar terhadap negara".

Ketika para aktivis dan mahasiswa turun kejalan menyuarakan freedom of speech, ketidakadilan, dan rasisme alat negara", maka mereka yang "memiliki lencana/ otoritas" menangkap, menuntut, dan mengadili black man and black woman of Melanesian race dengan tuntutan 15 tahun/20 tahun atau hukuman mati, yang jauh lebih berat dibandingkan hukuman para koruptor yang memiskinkan rakyat dan negara.

Ketika para aktivis dan mahasiswa mempertanyakan, apa manfaat eksploitasi sumber daya alam dan pembangunan infrastruktur, yang memoles jalan jalan dengan aspal dan beton, memoles kota kota dengan "hutan" beton, melobangi gunung-gunung, lembah-lembah, mengeksploitasi pantai hingga lautan, namun "hak hidup orang hitam dan berambut keriting" tidak pernah mendapatkan jaminan di Tanahnya sendiri.

Bukankah "hanya" orang hidup yang bisa menikmati hasil pembangunan, sedangkan orang orang yang telah mati - kembali ke pangkuan Tuhan, bersama Tuhan di Yerussalem baru, yang tidak lagi membutuhkan "satu ons/gram" pun benda-benda duniawi yang dapat mengenyangkan perut manusia.

Apakah begitu sulit "memiliki mimpi di republik Pancasila", ketika "nyawa" orang orang berkulit hitam dan berambut keriting "lebih berharga, lebih mulia, lebih tinggi, lebih dibutuhkan, lebih dilindungi" dibandingkan "daya tarik" orang-orang tamak dan serakah, yang mencintai emas (gold), USA Dollar (foreign currency), Minyak dan Gas Bumi" yang di eksploitasi di atas tanah, dibawah tanah dan dibawah permukaan laut, di Tanah Papua.

I have a dream, ketika nyawa manusia ras Melanesia/black folks Tanah Papua itu lebih dihargai dan lebih dihormati, dibandingkan "kecintaan" orang orang asing terhadap kekayaan sumber daya alam "benda mati", yang secara konsisten, menjadi bagian dari sejarah kekerasan berdarah di Tanah Papua. Wa Wa

I Have A Dream! Satu Nyawa Itu Berharga di Tanah Papua.

OLeh Willem Wandik. S.Sos

[ANGGOTA PARLEMEN RI SEJAK 2014, DAN TERPILIH KEMBALI UNTUK PERIODE 2019-2024, MEWAKILI DAPIL PAPUA]

Share This Article

Related Articles

Comments (148)

Leave a Comment

Liputan Video

Video Lainnya

Daftar

Gallery