pasang iklan

Indonesia Kalah Lawan Propaganda Vanuatu "Kuasai" Papua?

JAGAPAPUA.COM - Indonesia menghadapi tantangan dalam menjaga ketahanan nasional terhadap ancaman disintegrasi bangsa. Gerakan separatisme selalu membayangi keteguhan dan keutuhan NKRI. Organisasi Papua Merdeka (OPM) menjadi ancaman yang nyata bagi persatuan Indonesia. Terlebih masifnya dukungan negara-negara yang tergabung dalam Melanesian Spearhead Group (MSG) yang memiliki sekretariat di Republik Vanuatu. MSG aktif memberikan dukungan kepada aktivis-aktivis gerakan separatis di level internasional. Hal ini sangat menyulitkan posisi Indonesia di mata dunia dan secara domestik mempertahankan keutuhan wilayah NKRI.

Keberadaan MSG dengan Republik Vanuatu sebagai motornya memiliki beberapa motif kuat dalam mendukung kemerdekaan Papua. Motif tersebut antara lain adanya kedekatan etnik yaitu etnik Vanuatu dan Papua memunculkan ikatan emosional yang kuat untuk mendapatkan kemerdekaan. Motif lain yang sangat kuat juga adalah adanya keinginan Vanuatu menjadi pemimpin regional sebagaimana pernah disebut Thomas Bagus Putera Temaluru (2016). Hal ini membuat posisi Indonesia di wilayah Papua terancam dengan adanya kekuatan dan motif kuat Republik Vanuatu. Propaganda Republik Vanuatu menuntut reaksi cepat Indonesia dengan tidak hanya melibatkan aktor negara melainkan juga melibatkan aktor non-negara.

Dalam upaya tetap menjaga terintegrasinya Papua ke dalam wilayah NKRI, Indonesia telah menjalankan berbagai upaya dalam membangun infastruktur dan komunikasi sosial yang baik dengan masyarakat Papua. Adanya program Bali Democracy Forum yang merupakan agenda tahunan negara-negara demokrasi di Asia dan digelar di Bali. Dalam forum tersebut Indonesia mengambil kesempatan untuk menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara yang demokratis dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip demokrasi. Dalam kesempatan itu, Menteri Luar Negeri juga menyampaikan berbagai upaya yang telah dilakukan Indonesia dalam menegakkan demokrasi dan Hak Asasi Manusia sekaligus menjawab tuduhan-tuduhan pelanggaran atas HAM di Indonesia.

Kelompok negara MSG juga diundang dalam forum tersebut sebagai langkah Indonesia menguatkan citra Indonesia. Untuk melawan isu kedekatan etnik MSG dan Papua, Indonesia juga menggunakan diplomasi budaya dan sekaligus menunjukkan bahwa mayoritas wilayah Indonesia bagian timur juga merupakan keturunan ras Melanesia. Selain itu, Indonesia dianggap penting untuk melibatkan aktor non-negara dalam upaya melakukan kontra propaganda terhadap aktivis separatisme baik di Papua maupun di Pasifik.

Gia Noor Syah Putra dkk (2019) dalam penelitiannya menyampaikan beberapa tindakan lain yang dapat dilakukan oleh Indonesia dengan pelibatan aktor non negara yaitu (1) Mendirikan NGO yang diisi oleh para aktifis penggiat Papua pro NKRI, yang memiliki tugas melakukan propaganda dengan sasaran internasional (2) Mendirikan NGO yang diisi oleh para pakar cyber dengan dua tanggung jawab, yaitu mewadahi opini para penggiat Papua Pro NKRI dan juga  melakukan hacking terhadap situs-situs  Papua Merdeka. (3) Menciptakan sosok pemimpin pro NKRI asli Papua dalam upaya menyeimbangkan popularitas para petinggi OPM, salah satunya adalah Benny Wenda. (4) Merangkul negara-negara pro NKRI di MSG untuk dijadikan pemimpin di MSG. (5). Membuat modul khusus terkait diplomasi pertahanan sebagai diplomasi total pemerintah yang diberlakukan di seluruh instansi. (6) Mempublikasikan semua hal yang  pernah dilakukan pemerintah untuk pemerintah. (UWR)

Share This Article

Related Articles

Comments (0)

Leave a Comment

Liputan Video

Video Lainnya

Daftar

Gallery