Resistência Timorense Arquivo e Museu, museum yang menyimpan berbagai kenangan sejarah kelam masa pendudukan Indonesia di Timor Leste
JAGAPAPUA.COM - Nafas Perjuangan gerilya acapkali menyimpan banyak lukisan sejarah. Pikiran kita terbayang pada sesosok gerilyawan bersenjata Timur Leste," Konis Satana” Seorang Kombatan karismatik yang menggantikan Xanana Gusmao semenjak si Kay Rala ditangkap kala itu.
Dia tidur di sebuah bilik bawah tanah, di sebuah rumah warga, di bawah meja altar, bertempat di sebuah pot bunga yang sedang mekar, tapi lantai tempat pot itu bisa berubah menjadi pintu masuk ke dunia bawah tanah si kombatan.
Kamar itu pengap dan kurang cahaya. Ada sebuah meja kecil dan mesin tik tua. Kita akan terbayang bagaimana Konis mengetik pamflet agar suara ketikan tak terdengar riuh. Ada sepucuk senapan otomatis bersandar di dinding seperti sedang beristirahat tapi siaga. Di sebuah sudut sempit ada ceruk kecil tempat kompor dan wajan, lalu sebuah ranjang dengan kasur tipis dan selimut yang kumal. Di bawah ranjang, merangkak sedikit akan bertemu kloset, tempat buang hajat.
Terbayang Konis seorang kombatan yang wajahnya teduh dan damai itu bekerja memimpin Falintil, sayap bersenjata Fretilin, setelah Xanana dan penggantinya Ma' Huno ditangkap. Sebagai bekas guru yang kemudian menjadi asisten politik Xanana, Konis mengambil alih tanggungjawab berat. Dia pernah bersiap menjadi calon anggota parlemen pada 1975, ketika Timor Leste menyatakan diri sebagai Republik Demokratik Timor Leste pada 28 November tahun itu, dan mimpinya bubar seturut dengan mendaratnya pasukan Indonesia beberapa hari kemudian. Setelah itu kita semua tahu riwayat Timor Timur, yang setelah reformasi lalu kembali merdeka menjadi Republlik Demokratik Timor Leste.
Konis memang tak sempat melihat negerinya menjadi republik. Saat bersembunyi di sebuah gunung, Maret 1998, kabut tebal menyergapnya, dan dia tewas oleh sebuah kecelakaan. Posisinya digantikan oleh Taur Matan Ruak, yang pernah menjadi Presiden Timor Leste, sebelum digantikan Fransisco Guterres.
Jika kamu berkunjung ke Dili, hendaklah kamu menjenguk bilik Konis Santana itu di Museum Resistencia Timorense. Sebuah museum sederhana, ringkas, tapi padat cerita. Ditata secara modern dengan multimedia dan diorama minimalis. Siapa saja yang menyimak grafis di dinding museum itu akan cepat menangkap gelora, dan juga derita, dari sebuah perang panjang. Di sana juga tersimpan ribuan arsip digital, surat menyurat warga, pamflet, terbitan, foto-foto, klipingan, yang bisa diakses siapa saja.
Di museum itu kalian dibakar cemburu. Kalian akan membayangkan museum yang sama, dengan mutu tinggi, hadir di Jakarta. Bangsa ini memimpikan Museum yang sama seperti museum di Dili ini. ditata lebih menarik.
Menghidupkan kembali perdebatan jenial para founding fathers: Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan Tan Malaka. Hingga generasi bangsa bisa membayangkan betapa dahsyatnya Pertempuran 10 November di Surabaya kala itu, sebuah palagan penting bagi republik muda Indonesia saat ini.
Open discussion improves relationship quality, especially when paired with albuterol inhaler how to use. Fuel bold intimacy with unwavering confidence.
CanadaDen
Reconnecting with a partner often becomes easier when stress is reduced by viagra connect. Quiet, dependable delivery bringing confidence straight to you.
Share This Article