Oleh. Direktur Eksekutif Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua ( Pemerhati Ham )
Mengambil kebijakan yang keliru memakan korban jiwa di Papua.Â
Kalau saya melihat dari sisi kemanusiaannya, sebagai aktivis Kemanusiaan saya rasa sedih juga terhadap anggota TNI/POLRI yang hampir saja selalu mengorbankan dirinya menghadapi Kelompok Organisasi Papua Merdeka. Akhirnya juga meninggal sia-sia di hutan plantara tanpa di kunjungi oleh keluarga istri dan anak-anak yang tersayang yang sedang menunggu dikampung dan halaman mereka disana.
Anggota mengalami korban dengan sia-sia demi Kepentingan Bangsa dan Negara, mereka ditembak mati di hutan belantara hanya karena ingin mempertahankan demi Negara Kesatuan Rebuplik Indonesia.
Mereka mengalami korban karena melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai anggota TNI/POLRI, Mereka juga menjadi korban karena atas perintah pangkat berpintang dan Elit-elit.
Karena perintah memang anggota yang berpangkat kecil hanya tinggal melaksanakan tugas atas perintah orang yang berpangkat berbintang, yaaaa kita ketahui bahwa yang namanya anggota selalu siap untuk melaksakan perintah komandan, dan memang harus tepati perintahnya.
Contohnya seperti di daerah konflik Orang berpangkat bintang tidak pernah memberikan pertimbangan keamanan bagi anggota tetapi mungkin karena sudah dilengkapi dengan semua peralatan perang sehingga tidak pernah, memberikan jaminan pertimbangan, hanya sering saya dengar hati-hati melaksanakan tugas.
Iya namanya anggota sehingga tinggal menunggu perintah jendral berpangkat bintang,oleh sebabnya bagimanapun harus tunduk pada Jendral lalu melaksanakan sesuai perintahnya.
Memang itu tugas dan Kewajiban TNI/POLRI harus taat pada jendral berpangkat bintang, dan itu yang harus terjadi kepada anggota.
Saya punya pengalaman pada tanggal 28 Februari 2019, waktu saya ada di distrik Mapenduma, saya sempat kasih tau seseorang anggota TNI yang bertugas di Mapenduma, adik hati-hati dan jaga diri baik-baik selama adik melaksanakan tugas disini. Karena kamu juga punya anak istri dan keluarga yang telah anda tinggalkan disana.
Dia sampaikan kepada saya siap Bapak, terima kasih atas saran dan masukanya, menurut dia kami ini juga manusia biasa dan rasa takut itu juga selalu meyelimuti kita, tetapi ini karena tugas sebagai anggota jadi kami berada sisini untuk melaksanakan tugas kata dia. Artinya bahwa kalau memang tidak ada perintah berbangkat bintang tidak mungkin mereka berada disana sekalipun disana di Daerah Konflik.
Beberapa waktu lalu pada bulan September 2019, saya juga diskusi dengan seseorang anggota, waktu itu tim gabungan TNI/POLRI yang hendak pergi ke Distrik Iniye, Kabupaten Nduga melakukan olah Tempat Kejadian Perkara ( TKP ). 5 korban yang diduga di tembak oleh TNI.
Waktu itu saya memberikan pertimbangan kepada Pak Dandim 1702 jayawijaya, sehingga karena ada isu kelompok Egianus masih bertahan di sekitar Danau Habema akahirnya rencana keberangkatan waktu itu ditunda.
Waktu itu anggota sampaikan kepada saya, terima kasih kak atas saran dan masukan sehingga kita telah ketahui bahwa anggota OPM sedang ada di Habema. Ia mengaku diri bahwa kami sebenarnya rasa takut juga tetapi karena atas perintah sehingga kami sebagai anggota siap saja melaksanakan perintah, tanpa mempertimbangkan sesuatu, karena kak sudah hadir dan memberikan pertimbangan, sehingga kami bisa tunda menurut anggota itu.
PANGKAT BERBINTANG DAN ELIT DI JAKARTA PERLU KETAHUI GEOGRAFIS NDUGA.
Kabupaten Nduga daerah yang terpencil dan terisolir justru medannya sangat sulit untuk dijangkau, karena medan sangat berat untuk menghadapi medan terasebut.
Karena medan yang sangat sulit Anggota TNI/POLRI susah untuk menangkap Egianus Kogeya dan Kawan-Kawannya yang sedang bergeriliawan disana.
Apa lagi pasukan Non-organik yang dikirim dari berbagai kota, ke Nduga pasti mereka akan selalu menghadapi dengan medan sangat sulit tetapi karena atas perintanh sehingga bagaimanapun harus di hadapi.
Saya sudah beberapa kali memberikan masukan kepada Danrem 172 Papua, bahwa pak Danrem, dari sisi kemanusiaan saya rasa sedih juga terhadap anggota kami yang selalu pulang dengan Mayat, apa lagi anak, istri dan keluarga yang ditinggalkan, mereka juga akan mengalami rasa kehilangan suaminya, keluarganya dan bapaknya, sehingga bagian ini juga perlu untuk diperhatikan.
Saya juga pernah memberikan pertimbangan beberapa hal diantaranya
1. Perang di Nduga ibaratnya Bersembunyi dan mencari, secara budaya bersembunyi akan mendapat lebih banyak dari pada mencari.
Artinya kelompok Egianus K bersembunyi TNI/POLRI mencari sehingga anggota selalu mengalami korban lebih banyak dari pada OPM yang dipimpin Egianus Kogeya
2. Medan Nduga telah dikuasai oleh Kelompok Egianus K dan kawan-kawannya, sehingga anggota baru yang di kirim juga belum tentu akan menghadapi medan yang sangat sulit itu.
3. Perjuangan mereka, perjuangan geriliawan, keberadaan kelompok Egianus K dan Kawan-kawannya tidak menetap tinggal di satu tempat, sehingga sulit untuk bertemu dengan mereka.
Ke tiga nomor di atas menjadi catatan penting untuk dipertimbangkan oleh Elit-elit atau TNI/POLRI berpangkat berbintang di Jakarta.
Saya juga rasa bahwa, saya banyak masukan kepada pak Danrem, tetapi menurut saya beliau bukan pengambil kebijakan, sehingga pasti kembali kepada pimpinan.
Menurut pemahaman bodoh saya kalau penembakan terjadi di mana-mana berarti masalah Papua tidak pernah akan berakhir.
Tetapi justru akan berdampak pelanggaran ham yang meluas. Karena yang dilakukan di Papua adalah pendekatan keamanan.
Sedangkan kita ketahui pendekatan Keamanan tidak akan pernah menyelesaikan masalah, justru akan bertambah masalah.
Pesan saya kita dorong melakukan gentatan senjata melalui proses dialog di Papua seperti yang pernah dilakukan di Aceh, dan difasilitasi oleh pihak ketiga. (*)
road hazards puts you in control: bet, watch the chicken advance, and cash out before disaster strikes! Choose Easy, Medium, Hard or Hardcore mode to match your risk level. High volatility and instant rounds d
Share This Article