Virus corona terus mengamuk menguncang dunia, membuat berbagai aktivitas nyaris terhenti total. Pusat pemerintahan, pusat industri dan perdagangan, sampai tempat ibadah dari berbagai agamapun terpaksa harus dikosongkan demi mencegah penularan corona secara masal. Para pemimpin agama menghimbau umatnya agar melakukan doa sembahyang di kediaman masing-masing. Bahkan pola baru sembahyang secra online juga diterapkan. Pihak Pemerintah maupun swasta juga mengurangi aktivitas rutin berkantor, dan membuat rapat secara online, melalui teleconference. Berbagai upaya pencegahan dan pengedalian dilakukan untuk mengatasi terjangan virus corona ini. Sungguh mengerikan.
Suara Lonceng Kematian
Berita-berita Media nyaring mendengungkan kabar serangan covid-19 di seluruh dunia. Jumlah pasien kasus Corona secara global, hingga Hari Minggu (5/4/2020), telah mencapai 1,2 juta lebih positif terinfeksi, korban meninggal 64.804 dan 247.354 dinyatakan sembuh (Kompas.com, 15 Maret 2020).
Khusus di Indonesia, dalam kurun waktu sebulan lebih, Penyebaran Covid-19 telah berekskalasi cukup tinggi. Sejak Presiden Jokowi, pertama kali mengumumkan ada dua kasus positif corona, (4 Maret 2020), hingga kini di kwuartal ke-1 Bulan April 2020, sudah mencapai angka 2000-an.
Juru bicara Pemerintah untuk Penanganan virus corona (Achmad Yurianto), dalam jumpa pers di Graha BNPB, Kamis, 2 April 2020 yang lalu, menyampaikan kasus positif corona di Tanah air, terus bertambah dari hari ke hari. Data terbaru kasus yang terkonfirmasi adalah 1.970 kasus. Dari jumlah ini, ada 112 orang dinyatakan sembuh, sedangkan 170 meninggal, dan 1.911 dalam perawatan. (rilis berita media liputan6.com, 2/4/2020).
Betapa mengerikan bila memikirkan keadaan ini, Sekitar 200 negara di seluruh dunia dilanda wabah Virus Corona. Pemerintahan besar dunia Seperti China, Amerika, Italia, Mexico, dll, takluk kepada keganasan makhluk kecil bernama covid-19 ini. Aura ketakutan dan aroma kematian menyeruak di seluruh bumi, menghatui setiap orang, mulai dari rakyat jelata hingga petinggi negara dan konglomerat. Tidak ada yang terkecuali. Itulah suara Longceng kematian yang bertalu-talu menggema di seluruh penjuru dunia.
Nyanyian Anak Bangsa
Penggalan lirik lagu Lonceng kematian;
hey kau yang munafik kapan akhir sandiwara mu…
saling berlomba mengejar kekayaan..
tak kau bawa mati nanti..
Kasihani mereka..
hidupnya melarat..
suatu waktu kau’kan jatuh..
neraka tempat mu,”
adalah kritik sosial yang pernah disuarakan Grup Band legendaris asal Papua - Black Brothers, sekitar tahun 1970-an. Berkenaan keprihatian hidup rakyat Papua yang berlangsung dimasa itu.
Lalu apa yang relevan dari nyanyian itu di masa sekarang? Mari kita simak drama kehidupan Papua saat ini. Ketika wabah corona melanda, Papua tak punya infrastruktur kesehatan yang baik. Padahal diperlukan kesiagaan untuk penanganan medis secara cepat, dengan fasilitas standar yang memadai. Papua tak punya itu, terutama di wilayah frontier yang jauh dan terisolir. Bila ada yang terpapar corona, maka mereka akan binasa.
Mau pakai metode “Sosial distancing dan physical distancing”, tapi itu sulit untuk penduduk lokal di suku-suku Pedalaman Papua, karena budaya interaksi bergerombol di dalam komunitas adat. Mereka terbiasa hidup komunal. Memang untuk masyarakat Papua di wilayah pesisir dan di perkotaan, bisa pakai metode itu. Masyarakat Papua pesisir tidak sulit mengikuti himbauan pemerintah, mereka lebih bisa berikhtiar melakukan kiat-kiat hidup sehat sehingga kecil kemungkinan terpapar corona. Tapi bagi masyarakat Papua di Padalaman, akan cukup terkendala. Jadi Apa yang akan terjadi di Pedalaman sana?, Ngeri sekali membayangkannya.
Walaupun penuh keterbatasan, tetap saja nyawa orang Papua adalah utama, dan harus diselamatkan. Itulah dasanya Gubernur Papua Lukas Enembe, mengambil langkah cepat bersama Forkopimda, para Bupati, dan wali kota se provinsi Papua; mereka duduk bersama, pada hari Selasa, tanggal 24 Maret 2020, dan menetapkan kebijakan : “Mengunci Wilayah Papua, memberlakukan Pembatasan Sosial, memblokir Pergerakan Penduduk masuk/keluar ke dan dari Papua, terutama ke daerah pedalaman Papua. Wilayah Papua dikunci, tidak boleh ada warga dari luar yang masuk ke Papua. Pesawat komersil dan Kapal penumpang dibatasi, kecuali untuk angkutan cargo dan pelayanan khusus. Penguncian wilayah dan pembatasan sosial, direncanakan 14 hari, terhitung 26 Maret hingga 9 April 2020, demikian tegas gubernur Lukas Enembe kepada Nasionalnews.id, dan media lainnya.
Lantas apa yang terjadi kemudian? reaksi cepat Gubernur Papua Lukas Enembe untuk melindungi rakyatnya itu, dikecam oleh Mendagri Tito Karnavian. Kantor Berita Poltik RMOL.id, pada rilis pemberitaan 25 Maret 2020, memuat pernyataan Staf khusus Mendagri, Kastorius Sinaga : “Sama sekali tidak setuju”, arahan Mendagri kepada Pemerintah Daerah bukan berupa penutupan akses transportasi, melainkan hanya larangan bagi warga agar tidak berkumpul, dalam jumlah banyak, baik untuk kegiatan sosial, budaya, atau agama.
Media Pinterpolitic.com, tanggal 27 Maret 2020, juga mengangkat berita dengan judul yang cukup heboh. “Mendagri Tito dilawan Anak buah?”. Dalam pemberitaan itu Pinterpolitik menyinggung sikap Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dan Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono, yang sejalan dengan rekan mereka Gubernur Papua Lukas Enembe; Ganjar dan Supriyono tegas mebatasi arus masuk orang dari Jakarta.
Tidak hanya Mendagri Tito Karnavian, tetapi Menko Maritim & Investasi Luhut Binsar Pajaitan juga mencerca kebijakan Lukas Enembe, yang dianggap terburu-buru tanpa koordinasi lebih dulu dengan pemerintah pusat. Cukup menarik, sikap kurang bijak LB Panjaitan itu, langsung mendapat perlawanan dari salah satu Bupati di Papua, yaitu Ricky Ham Pagawak, Bupati Mamberamo Tengah. Ricky menyatakan bahwa Pemerintah daerah Papua punya tanggung jawab untuk melindungi rakyat-nya; ”Jangan bicara sembaangan di Jakarta sana. Ini rakyat kami, tanah kami dan negeri kami”. Tegas Ricky Pagawak.
Terkait sikap perlawanan Bupati Mamberamo Tengah tersebut, Wartakota.com, pada Rabu, tanggal 1 April 2020, memuat komentar Wakil Ketua Partai Gerindra Fadli Zon, yang ditulis dalam akun twiternya @fadlizon, dengan cuitan : “Wibawa pusat semakin hilang di Papua. Apa yang mereka lakukan adalah untuk melindungi rakyat."
Berbagai Media nasional juga memberitakan sikap Presiden Jokowi yang tidak mau me-lockdown Indonesia karena menurutnya budaya dan kondisi Indonesia berbeda dengan negara-negara lain yang telah menerapkan lockdown. Alasannya kekacauan dan kerusuhan bisa saja, dan berpotensi melumpuhkan perekonomian nasional, jika kebijakan tersebut diterapkan. Hmmm.. benarkah begitu pak Presiden? Bukankah kerawanan pasca Pilpres 2019 kemarin lebih genting dan berpotensi menimbulkan kerusuhan besar di Tanah air ? tapi kerawanan itu telah bisa diatasi dengan mudah oleh TNI dan Polri kita yang sigap dan tangguh. Banyak pemerhati dan cerdik pandai negeri ini, mengkritik sikap ambigu Pemerintah yang kurang realistis. Pemerintah dinilai lebih mengkhawatirkan perekonomian nasional dari nyawa dan keselamatan rakyatnya sendiri.
Nyanyian Baru Papua Dibenarkan
Alih-alih tidak setuju dan menolak Keputusan Gubernur Papua Lukas Enembe, terpaksa Mendagri Tito Karnavian, dan rekannya Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pajaitan, bungkam menerima pilihan kebijakan terbaik Pemerintah Provinsi Papua. Karena pada tanggal 31 Maeret 2020, Presiden Jokowi pun akhirnya menetapkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 21 Tahun 2020, yang menjadi dasar penetapan situasi darurat sipil nasional dan kebijakan – Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), dalam rangka pengendalian wabah covid-19.( lihat upload di link di Setkab.go.id, tertanggal 1 April 2020).
Bagian lain dalam apa yang kami sebut sebagai nyanyian baru disini ialah : Berita dari kepala Deputi China National Center for Biotechnology development, Sun Yanrong, yang mengatakan bahwa “Chloroquine phosphate”, bahan dalam obat malaria, telah dipilih melalui uji klinis, sebagai bahan untuk pengobatan infeksi Covid-19. (berita CNN Indonesia, Hari Jumat, 28 Februari 2020), dikutip dari Clinical Trial Arena, salah satu media di China.
Apa yang hebat dari berita ini? ternyata virus corona yang mematikan itu bisa diatasi dengan Chloroquine phosphate. Dan sangat menggembirakan karena Obat majur Chloroquin ini adalah sahabat karib orang Papua dalam mengatasi demam malaria selama ini. Rupanya orang Papua dan si Chloroquine sudah bergaul karib lebih dari 100 tahun, sejak masih pendudukan Belanda. Kita Masyarakat Indonesia antusias dengan berita chloroquine, masyarakat Papua malah biasa-biasa saja. Belakangan orang berinisiatif membuat “sari daun pepaya” sebagai obat untuk pencegahan infeksi virus corona; orang papua justeru senyuman-seyum riang, sebab daun pepaya adalah salah satu menu sayuran kegemaran orang Papua, yang sering dikonsumsi.
Tadinya kita kawatir Papua akan binasa karena terpapar virus corona yang kejam dan mematikan. Ternyata tidak, Papua akan baik-baik saja. Dalam cerita ini kita temukan Ada simpati dan solidaritas untuk Papua, ada pandangan positif terghadap Papua yang sebelumnya disepelekan akhirnya dihargai karena prinsip-prinsip yang baik. Itulah nayanyian baru anak bangsa.
Berkenaan hal ini Profesor Wim Poli (Guru besar FEB UNHAS), dalam Facebokk Pribadinya, tanggal 7 April 2020, membuat postingan dengan judul : “Dari Corona ke Masa Depan”. Tulisan sang Profesor tersebut kami copy beberapa bagian saja untuk kami pakai pada Penutup tulisan ini antara lain : Tanpa disangka-sangka pandemic virus corona telah menjungkir-balikan berbagi pemikiran kita yang sudah mapan. Pengalaman yang mengerikan dan menegangkan ini membuat kita aktif berpikir. Apa itu berpikir, dan apa tujuannya.
Berpikir adalah usaha manusia memahami pengalamannya yang bermuara pada tindakan menuju masa depan yang lebih bermakna. Apa pengalaman kita di sekitar pandemic virus corona, dan apa masa depan yang mau dicapai? Pengalaman kita ialah kita menjadi bingung, panik, lalu bertindak rasional. Amerika Serikat dan China saling menuduh sebagai pencipta dan penyebar sang virus. Saling tuduh itu ternyata tidak mencegah virus corona berpindah-pindah ke seluruh dunia dengan kecepatan yang tinggi. Kepanikan meningkat. Kita lalu berpikir kembali dengan lebih rasional, dan tiba pada keputusan baru untuk menuju masa depan yang lebih bermakna, tidak sendiri-sendiri, tetapi dalam kerja sama yang saling menghargai. Kita butuh pencerahan dan bertindak secara baru.
Penutup
Sehubungan dengan masa depan yang lebih bermakna, bapak Ilmu Manajemen Modern, Peter F. Drucker (1909-2005), berkata Bahwa Pemikiran yang efektif bukanlah tentang apa tujuanku yang dapat dicapai. Itu adalah cara berpikir lama yang ketinggalan kereta. Cara berpikir baru ialah "apa sumbanganku yang dapat diberikan untuk pencapaian tujuan bersama."
Hendaknya setiap insan manusia merenungkan apa sesungguh pesan yang hendak disampai buana raya, melalui peristiwa badai virus corona ini. Barangkali hanya sedikit orang dari miliar manusia di bumi yang mencoba merefleksikan prahara kemanusiaan yang sudah terjadi, dan menemukan hal-hal positif lain dari peristiwa ini untuk tujuan ke depan. Posisi dilematis Papua, adalah suatu pelajaran berharga, yang bergerak dibawah bayangan lonceng kematian, menuju masa depan yang gemilang diiringi nyanyian baru.
(Ditulis oleh Willy Hegemur,Tokoh Papua dan Inisiator Padvisor Independen Papua)
Share This Article