Tan Malaka atau Ibrahim gelar Datuk Sutan Malaka, pejuang kemerdekaan Indonesia
JAGAPAPUA.COM - Siapa yang tak tahu sosok Tan Malaka, tewas di moncong senapan itulah dia. Bernasib tragis lantaran berderap melafazkan kemerdekaan Indonesia. Tan Malaka adalah sosok legendaris yang banyak menghabiskan umurnya menggeluarkan indonesia dari cengkraman imperialisme asing.
Ia adalah tokoh revolusioner, aktivis kemerdekaan, filusuf kiri, bapak Madilog, pendiri Partai Murba dan Pahlawan Nasional Indonesia.
Sekian panjang dan lama memperjuangkan Indonesia, akhirnya Tan Malaka seolah-olah menjadi kehilangan sisi kehidupan pribadi. Dia termasuk salah satu tokoh sejarah di Indonesia yang tidak menjatuhkan pilihan hatinya untuk menikah. Pilihannya melajang dan tak membangun keluarga sebagaimana banyak tokoh pergerakan lainnya pada akhirnya telah memunculkan tanda tanya besar. Menarik rasanya untuk sedikit mengulik sisi pribadi tokoh legendaris yang dikagumi para aktivis-aktivis kiri ini.
Beredar kisah konon kabarnya, kenapa lelaki bernama Tan Malaka memilih untuk tidak menikah. Ketika masa remaja, Tan Malaka jatuh cinta pada Syarifah Nawawi, gadis cantik kawan satu kelas semasa sekolah di Kweekschool, Bukittinggi. Namun lagi-lagi, cintanya harus kandas ketika Tan Malaka dihadapkan pada dua pilihan dari orang tuanya, menerima penobatan sebagai datuk atau menikah dengan gadis pilihan orangtuanya. Dan Tan malah memilih opsi yang pertama.
Setalah mendapuk dirinya sebagai Datuk tak lama sesudah itu Tan Malaka mulai melanjutkan sekolah ke Belanda. Berpisah dengan Syarifah Nawawi, bunga sekaligus pujaan hatinya. Lantaran terhalang jarak dan komunikasi, hubungan itupun berakhir dan kandas begitu saja.
Terlepas dari kendala tersebut, Syarifah kemudian dipinang oleh Bupati Cianjur RAA Wiranatakusumah yang sudah beristri dua. Kabarnya perkawinan tersebut tidak bahagia dan berakhir pada perceraian. Sejak gagal menikahi Syarifah, Tan hidup sendiri. Ada beberapa perempuan yang pernah singgah di hatinya namun tak pernah berakhir di pelaminan. Ketika di Belanda, Tan Malaka sempat berpacaran dengan seorang gadis Belanda bernama Fenny Struijvenberg.
Tan Malaka sendiri tidak pernah menceritakan kisah-kasihnya dengan noni Belanda itu di dalam memoarnya Dari Penjara ke Penjara. Dia hanya menuliskan sempat menjalin hubungan dengan beberapa perempuan di negara dimana dia tinggal.
Semasa tinggal di Manila, Filipina pada 1927, dengan menggunakan nama samaran Elias Fuentes, Tan sempat jatuh cinta pada seorang perempuan. Kabarnya perempuan itu anak seorang petinggi universitas di sana. Hubungan mereka terputus karena Tan ditangkap intelijen Amerika, diadili di Pengadilan Manila dan divonis deportasi keluar dari Filipina.
Tan Malaka kemudian ke Tiongkok, menuju Shanghai dimana dia tinggal di sebuah desa kecil selama kurang lebih tiga tahun dalam kondisi sakit dan tak punya uang. Kabarnya seorang perempuan Tiongkok merawatnya ketika itu. Tak disebutkan bagaimana hubungan mereka.
Dalam keadaan sulit tersebut, Tan mengontak Alimin yang saat itu berada di Shanghai sebagai perwakilan Komintern di Asia. Kepada Alimin Tan menyatakan siap mendapat tugas dari Komintern. Alimin menugaskan Tan untuk pergi ke Myanmar. Namun ketika tiba di Hongkong dalam perjalanan menuju Myanmar, Tan ditangkap agen rahasia Inggris dan ditahan selama dua bulan. Keluar dari penahanan, Tan menuju Amoy, Xiamen.
Tan Malaka yang saat itu menggunakan nama samaran Ong Soong Lee mendapatkan perlindungan di Tiongkok Selatan. Ia tiba di Amoy, dan di sana berhasil mendirikan Foreign Languages School, sebuah sekolah jurusan bahasa asing. Saat menetap di Xiamen itulah Tan bertemu seorang gadis Amoy berusia 17 tahun berinisial "AP". Gadis tersebut sering menyambangi Tan Malaka untuk belajar bahasa Inggris. Tan juga jadi tempat curahan hati gadis yang tak pernah disebutkan nama lengkapnya di dalam memoar Tan Malaka.
Tan keluar dari Amoy pada 1937, meninggalkan kisahnya dengan gadis Amoy tersebut. Dia menuju Malaysia, kemudian menetap di Singapura. Di wilayah jajahan Inggris itu Tan menggunakan nama Hasan Gozali dan bekerja sebagai guru pada sebuah sekolah. Tak jelas apakah dia kembali menjalin hubungan cinta di sana.
Ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942, Tan melihat ada kesempatan untuk pulang. Setelah menyusuri beberapa kota di Sumatera, akhirnya Tan tiba di Jakarta di mana dia hidup secara rahasia selama Jepang berkuasa. Baru pada 1945, Tan menampakkan diri terang-terangan. Mengunjungi beberapa kawan lamanya, salah satunya Ahmad Soebardjo. Di rumah Soebardjolah, Tan terpikat pada Paramita Abdurrachman, keponakan Soebardjo. Jalinan asmara mereka cukup serius sehingga banyak orang mengira mereka telah bertunangan. Namun kegiatan politik Tan Malaka jauh lebih menyita perhatiannya ketimbang berpacaran.
Paramita jadi perempuan terakhir yang mengisi kisah hidup Tan Malaka sebelum akhirnya lelaki yang didapuk sebagai Bapak Republik itu tewas di ujung senapan tentara Indonesia pada 21 Februari 1949. Akhir tragis Tan Malaka menggenapi kisahnya sebagai jomblo revolusioner dalam sejarah di Indonesia. (RS)
Lots of interesting information. I will update here every day survival race.
banana pro ai
Solid insights and a clean explanation. Keep the updates coming. banana pro ai
Geral Dortiz
It's fascinating how Tan Malaka's life was so intertwined with political events! His encounters with women along the way, especially Paramita Abdurrachman, are a poignant reminder of the personal sacrifices often made by revolutionaries. The idea of him be
Share This Article