Ilustrasi : Jubiana dan anak, salah satu warga Nduga
JAGAPAPUA.COM - Ketika kami melakukan perjalanan mengunjungi Pengungsi Nduga, sekaligus memberikan bantuan beras 400 kg pada 14 Maret 2020 di Distrik Muliama Kabupaten Jayawijaya, hari itu sepertinya hari yang sangat mengenaskan. Mengapa tidak, saya bertemu dengan seorang anak kecil Laki-laki, umur 4 Tahun, dia sedang memegang daun dalam bahasa lokal disebut “musan". Daun yang dimaksud bisa dimakan dengan mentah, dan dia hendak mencoba memakannya.
Ia memakan daun musan itu karena rasa lapar dan tidak ada persediaan makanan, sekalipun mereka menempati lokasi baru, namun belum ada kebun yang bisa diambil untuk persediaan makanan. Orang tua dari anak-anak tersebut baru mulai menggarap lahan sekitar penggungsian, sehingga tanaman belum bisa untuk di Panen sebagai kebutuhan makanan.
Sungguh sangat memprihatinkan, anak-anak memakan daun karena tidak ada makanan. Saya fikir anak-anak itu hanya berharap ada pengganjal untuk perutnya. Yang penting, mampu menahan rasa lapar.
Anak kecil ini tidak pernah berpikir akan mengalami rasa sakit di perut. Padahal memakan daun mentah bisa saja mengundang sakit. Tetapi begitulah anak kecil, yang dia tahu bahwa ia sedang kelaparan.
Sangat sedih melihat kondisi anak-anak seperti ini, memang juga, karena orang tuanya belum memiliki kebun yang jelas.
Itulah yang sedang dihadapi oleh pegungsi masyarakat kabupaten Nduga, Papua. Melihat kondisi memprihatinkan ini, kami berharap kepada pemerintah Kabupaten Nduga, dan kepala-kepala Distrik dapat melihat dan memperhatikan apa yang sedang dihadapi oleh Pengungsi Nduga.
Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua ( Human Rights Defender)
Share This Article