JAGAPAPUA.COM - Ini kata hati. Di suatu waktu, saat kita bangun dari tidur dan mendengar kabar, "Dibuka pelatihan wirausaha untuk Orang Asli Papua (OAP)!" Tentu ini menjadi angin segar yang luar biasa. Kenyataannya, yang kita dengar hanya sebatas pendaftaran CPNS,TNI, POLRI dan sejenisnya. Seolah-olah OAP dikondisikan ke arah itu. Lalu, alam Papua yang kaya ini, siapa yang akan mengolahnya dengan sungguh-sungguh untuk OAP?
Sementara itu, dana Otsus beterbangan di udara, seperti menguap begitu saja tanpa ada hasil yang jelas. Apa yang diperoleh OAP dari dana Otsus? Infrastuktur? Infrastruktur yang akhirnya membuat OAP hanya bisa belanja Kasbi, Keladi, Daun Genemo, Sayur Garnisun dengan Ikan Julung saja?
Sio sayang, infrastruktur pasar yang mahal ternyata hanya mengumpulkan OAP untuk mabuk-mabukan dan berjudi. Sementara harga sayuran yang hanya 5000 per ikat tak mampu dijual lagi lantaran kebun dirusak babi. Lalu di mana hasil kekayaan yang lain? Mengapa tidak mendesain Pasar Gaharu dan Pasar Emas? Semuanya seperti raib, hilang tak berbekas dari tanah surga yang jatuh ke bumi ini. Kita tinggal mendengar cerita dari mulut ke mulut, bahwa alam Papua sudah tergadaikan oleh nafsu dan kerakusan iblis!
Hati pun bertanya-tanya, dimana ahli ekonomi? dimana ahli keuangan? dimana ahli manajemen? dimana ahli marketing? dimana ahli-ahli dari OAP? Dimana Ilmu yang kalian miliki? Untuk apa kalian belajar semua itu? Apakah hanya untuk menyaksikan ahli aospol dan ahli hukum berteriak lalu dibilang pemberontak? Berapa lama lagi kalian bersembunyi di bawah ketiak kekuasaan? Sampai kapan anak Negeri Cenderawasih dininabobokan dengan Lagu Tanah Papua Indah?
Sesungguhnya hati ini ingin juga melihat anak Papua memiliki restoran yang ramai dikunjungi. Hati ini ingin melihat toko-toko besar dimiliki anak Papua, perusahaan-perusahaan besar ikan milik anak Papua, perusahaan-perusahaan besar meubel yang mengelola hasil hutan milik anak Papua. Menangis dan terus menangis, karena semua itu hanya mimpi! Nafsu berkuasa telah mengkerdilkan Papua ke arah pemekaran dan transmigrasi modern tanpa dibuat batas-batas wilayah adat. Stop tipu-tipu, karena Otsus bukanlah retorika!
STOP BUAT BALOK MARI BIKIN MEJA.
STOP JADI PEMBURU MARI JADI NELAYAN.
STOP MINTA UANG MARI CIPTAKAN UANG.
MARI BEKERJA SEBELUM KERJAAN DIKERJAKAN.
Ditulis oleh: Mananwir Keret Rumbewas sub Manokwari Yan Agus Rumbewas, SH
Share This Article