pasang iklan

Mata Air Emas Berubah Menjadi Mata Air Darah

PAPUA, JAGAPAPUA.COM – Perang lagi. Bukan di Timur Tengah, bukan di Eropa, melainkan di bumi Papua. Kali ini wilayah pertambangan Freeport di Tembagapura memanas. Grasberg Mile 64-67, Mile 69, area helipad lama, dan Bukit Bata mengurai cerita bersenjata. Kampung Banti, Opitawak, Kimbeli, dan Orwanob pun menjadi saksi bisu. TNI dan TPNPB saling menuding tentang pihak mana yang memulai peperangan ini.

Terlepas dari saling tuding tersebut, publik harus membelalakkan mata, bahwasanya masyarakat yang terdampak perang akhirnya tak menentu nasibnya.

Setelah migrasi pengungsi besar-besaran ke Timika sejak Minggu (8/3) kemarin, sakit, air mata, kesedihan, kekecewaan, seolah-olah menjadi santapan sehari-hari Tembagapura dan sekitarnya. Tidak adakah satu cerita manis dari Papua, selain pertumpahan darah dengan hasrat dan nafsu yang berbeda-beda?

Papua, bumi dengan limpahan emas, aliran sungai yang menyediakan surga bagi Indonesia, sepertinya semakin meninggalkan kenangan. Warna emas aliran sungai kini berubah merah, sewarna darah manusia, yaitu darah yang terbuang sia-sia oleh perebutan hegemoni kekuasaan Indonesia dan TPNPB. Ruang dialog sepertinya mati oleh ambisi saling mengalahkan dari kedua belah pihak.

Para pengungsi, yaitu para korban perang, tidak bisa dipandang sebelah mata. Bila menyebut Indonesia sebagai negara merdeka, mestinya tak ada lagi yang saling angkat senjata.

Peperangan sejatinya menunjukkan bahwa kemerdekaan di Indonesia seumpama cerita dongeng di Tanah Papua. Ini harus dihentikan. Dendam, amarah, akan terus bertambah dari generasi ke generasi bila negara hanya diam dan “membiarkan” semua ini berlanjut. Berapa nyawa lagi yang harus dikorbankan untuk sebuah kata damai?

Jalan damai terlihat semakin terjal, sebagaimana pepatah Latin kuno mengatakan, “si vis pacem, para belum”, bila engkau ingin kedamaian, maka siapkanlah perang. Rekonsiliasi lama-kelamaan menjadi hiasan antik yang dipajang di museum.

Bila ditanyakan pada korban perang, terutama anak-anak dan mama-mama, jawaban mereka pasti senada, “kami ingin hidup tenang, kami ingin sekolah, pergi kerja, cari makan, cari hidup dengan tenang.”

Dalam konteks yang lebih luas, dunia internasional perlu dibukakan matanya, diundang untuk melihat secara nyata nasib para pengungsi, dan bukan sekadar menjustifikasi tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. Siapkah kedua belah pihak untuk membuka diri pada satu kata damai? Mungkin doa pun tak sanggup lagi diucapkan. Air mata emas telah menjadi air mata darah. (Kr)

Share This Article

Related Articles

Comments (0)

Leave a Comment

Liputan Video

Video Lainnya

Daftar

Gallery