pasang iklan

Baca ini: Eksistensi Yayasan Pendidikan Kristen di Era Otsus

Mengurai Kisah

Bila Anda menyebut nama Franzs Johannes Fredrijk Van Hasselt dan Izaak Samuel Kijne, maka kenangan tentang keagungan, kebaikan budi, kecendekiawanan, dan keutamaan pendidikan akan bermekaran di Tanah Papua. Mereka adalah tokoh pendidikan dan peradaban bangsa Papua sejak tahun 1894-1963.

Tahun 1894, tahun yang penuh air mata. Ketika Franzs Johannes Fredrijk Van Hasselt pulang dari sekolah guru dan pendeta dari Belanda, di pelabuhan Tanjung Priok—Batavia Sunda Kelapa, Jakarta 2 (dua) anak Papua, Timotius Awendu dan Petrus Kafiar menjemputnya di kapal. Ketiganya berpelukan sambil menangis sedih sebab nanti di kemudian hari anak-anak Papua akan berdatangan ke Depok guna melanjutkan sekolah Diploma Guru. Mereka adalah Wellem Rumainum, Karel Koibur, Barnabas Yufuwai, Johan Ariks, Paulus Rumbekwan, Yason Sarawan cs. Sejarah ini membuktikan bahwa orang Papua sangat berharga di mata Franzs Johannes Fredrijk Van Hasselt dan Izaak Samuel Kijne.

Tanah Papua, Ladang Pendidikan Kristen

Sejarah mencatat bahwa pada tahun 1908, Papua memiliki sekolah yang terdaftar di Belanda yaitu Mansinan Yende Roon Windesi Anday Maudori Korido. Selanjutnya pada tahun 1917, Van Hasselt membuka sekolah Guru CVO (Civil Volkschool Onderwijzer) di Mansinam. Pada saat Kijne datang di bulan Juni 1923, tercatat sudah ada 120-an Volks School atau SR (Sekolah Rakjat).

Selama 10 tahun pertama (1923-1933), Kijne berhasil membangun 1100 Sekolah Rakyat termasuk Paduan Suara dan grup suling di setiap kampung maupun Jemaat di seluruh Tanah Papua. Bahkan selepas kepulangan Van Hasselt ke Belanda pada tanggal 5 Februari 1934, Kijne melanjutkan perjuangan pendidikan ini.

Pada waktu Perang Dunia II (1942-1945), Kijne ditahan di Balige Sumatera Utara bersama Nyonya Regina. Pada tahun 1946, mereka membentuk Organisasi Sekolah Zending dengan Ketua Pdt. H. J. Teutcher (1946-1958), kemudian Van Der Stoep (1958-1962). Sejarah semakin berpihak pada orang Papua ketika pada tanggal 8 Maret 1962, di aula SMA Gabungan, Badan Zending mengutus CCW UFLELIE menyerahkan sekolah-sekolah Zending dengan nama YPK kepada Tuan Janes Mamoribo sebagai Ketua dan mengurus sekolah sekolah tersebut.

Meskipun Kijne sudah pulang ke Belanda pada 1958, namun pikiran dan andilnya untuk sekolah-sekolah khusus dan kejuruan sejak tahun 1946-1962 tetap dikenang abadi. Adapun sekolah-sekolah khusus tersebut antara lain: VVS (Institut Yoka), JVVS (Jongens Vervolog SCHOOL) di Miei Yoka Korido Teminabuan Serui, MVVS (Mijses Vervolog SCHOOL) atau Sekolah Sambungan Putri di Korido Genyem Serui dan Teminabuan, PMS (Primaire Middlebaire SCHOOL), MULO (Meed Uidgabried Loger Onderwijzer) hanya di Hollandia saja, DVG (Diens van Gezonheid) atau Sekolah Perawat hanya di Serui dan Hollandia, LTS (Logere Tehniche School) atau Sekolah Tukang di Kota Raja Sorong Biak dan Merauke, ZVS (Zee Vaart School) atau Sekolah Pelayaran dan Telekomunikasi di Hamadi, OSIBA (Opleideing School voor Inbehemze Bestuur Amtenaren) atau Sekolah Camat di Yoka, ODO (Opleideing Doorps Onderwijzer) atau Sekolah Guru di Fakfak Ifar dan Serui, RAZ (Roterdaam Aan Zee) atau Sekolah Pandita di Serui, LBS (Landbouw School) di Kampung Harapan Sentani Kota, NICA HBS (Hogere Burger School), Huishoud School di Dok 5 Jayapura, yaitu sekolah setingkat SMA di mana angkatan terakhirnya adalah  Daniel Ajamiseba yang bekerja di Amerika hingga kini, Police School di Base G15, PVK di Arfai. Patut dicatat bahwa beberapa sekolah tersebut sempat mengegerkan dunia.

Melihat Masa Kini

Sekarang, YPK memiliki 873 sekolah (47 PAUD, 150 TK, 583 SD, 51 SMP, 28 SMU, 14 SMK) dan 1 (satu) Universitas. Dalam masa kebebasan akademik Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan “hadiah” dana Otonomi Khusus melalui UU Otsus, diharapkan agar pendidikan pun semakin maju. Tragisnya, pembiayaan pendidikan yang menjadi tujuan sentral dari dana Otsus, tidak memberikan pengaruh yang signifikan bagi pembangunan manusia Papua.

Sebuat saja bahwa, pada tahun 2014, dana Otsus yang disalurkan untuk Papua sebesar Rp.647,31 miliar. Pada tahun 2017, jumlahnya mencapai Rp. 1,67 triliun. Namun sangat disayangkan bahwa Angka Melek Huruf (AMH) di Papua dan Papua Barat tidak mengalami perubahan signifikan. Lalu, bagaimana dengan Yayasan Pendidikan Kristen di tengah uang Otsus yang terus bertambah?

Bila dibandingkan dengan zaman Kijne, yang dengan daya upaya seadanya mampu membangun 1250 sekolah, maka menjadi kekecewaan tersendiri bila YPK dalam bingkai Otsus hanya memiliki 873 sekolah. Dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, disebutkan bawah pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pengertian ini memang sangat muluk, namun sesungguhnya sudah dilaksanakan oleh Kijne. Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa kualitas pendidikan kini berbanding terbalik dengan dana Otsus yang melimpah? Mari bertanya pada rumput yang bergoyang!

Hidup YPK! selamat HUT 57 Tahun, 8 Maret 1962 – 8 Maret 2019

Oleh Pdt Hanz Wanma, S.Th

 

 

 

Share This Article

Related Articles

Comments (0)

Leave a Comment

Liputan Video

Video Lainnya

Daftar

Gallery