Di provinsi Papua, disalah satu kecamatan Nomfor Timur, tepat di kampung Bawey, berdiri sebuah bangunan Sekolah Dasar YPPK Bawey. Di sekolah itulah adik-adik kita bergelut dengan masa depanya. Namun ditengah kobaran semangat mereka, kegelisahan datang menghampiri. Sangat disayangkan ternyata dibalik bangunan Sekolah Dasar itu terdapat dua guru honorer yang sudah sekian lama mengabdikan diri selaku tenaga pengajar di SD tersebut.
Dua tenaga pengajar itu, begitu menempel di ingatan saya, salah satunya bernama Yohanes Mayor, selebihnya untuk yang satu lagi tidak teringat dalam ingatan. Sudah hampir 7 tahun lebih Yohanes Mayor menyadang status sebagai guru honor. Di tempat pendidikan itu pula Yohanes Mayor mengatungkan hidupnya. Berbekal dengan upah gaji yang amat kecil, lalu dibebankan tanggung jawab menghidupi delapan anak bersama orang tuanya. Cukup memberetkan Yohanes Mayor untuk menanggung beban tanggung jawab dengan gaji sekecil itu.
Meskipun demikian, Pria Tamatan SMK tersebut tak surut semangatnya untuk membangun tanah kelahirannya, namun saja, masih ada setumpuk kegelisahan yang menghujam benaknya. Kerapkali ketika hendak berfoto ijazah, adik-adiknya harus menempuh perjalanan jauh bersama kapal laut. Entah mau berlabuh ke Manokwari atau ke Biak. Perjalanan sangat jauh untuk sekedar berfoto ijazah.
Dan itu kerapkali terjadi, bagi adik-adik yang menempuh pendidikan di akhir sekolah, yakni kelas enam SD, kelas tiga SMP dan kelas tiga SMA. Selain dibenturkan oleh jarak, Sebagian besar adik-adik itu juga menjalani pendidikan kampung, mereka belum mengenakan sepatu untuk pergi menimpa ilmu. Begitupula dengan sendal.
Disekolah tersebut selain Yohanes Mayor, ada sejumlah tenga pengajar juga, berasal dari kampung halamanya dengan status yang sama. Lebih mirisnya lagi pada tingkatan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SMP) hanya ada satu tenaga pengajar yang diperbantukan disitu, guru itu bernama Ibu Orisu.
Meskipun Ibu Orisu sudah pensiun, kecintaanya terhadap profesi guru masih kuat, di terus berderap mengabdikan diri di SMP tersebut, apalagi di sekolah itu kerap kali hanya kerja bakti. Hal itulah yang menyebabkan anak-anak dikampungnya memutuskan melanjutkan pendidikan SMP yang ada di kampung Inasi.
Tempat yang terbilang jauh untuk sekedar menempuh pendidikan setingkat SLTP, namun lagi-lagi semangat para anak-anak dan adik-adik tersebut tetap terbakar, meski harus berjalan jauh. Dua jam melintas untuk mengenyam pendidikan. Setelah melawati salah satu kampung dengan kaki kosong. Begitu sebaliknya ketika mereka kembali kerumah.
Namun ditengah keterpurukan pendidikan, belum ada merebak kabar hingga sekarang, sekiranya untuk mendapat bantuan, berupa sepeda atau alat transportasi yang lain. Itulah faktanya, padahal tiapkali menimbah ilmu, mereka harus menempuh perjalanan dua jam untuk bisa sampai disekolah. Sesekali jikalau ada tumpangan truk mereka akan menumpangi truk itu. Begitu pula siswa yang bersekolah di kampung Inasi.
Disamping itu, adapula juga anak-anak yang melanjutkan Sekolah (SLTA) di kampung Kameri, lagi-lagi lantaran jarak mereka harus mendiami sesaat dikampung tersebut. Jika mereka mempunyai uang barulah mereka melanjutkan perjalanan untuk balik ke kampung Bawey dengan beban biaya ojek pulang-pergi senilai Rp. 100.000. (Rahmat Sangaji)
Share This Article